Jenazah Korban Penganiayaan di Rutan Kupang Diautopsi

Jenazah Korban Penganiayaan di Rutan Kupang Diautopsi

168 Read
Kupang–  Setelah menunggu selama tiga hari dua malam, jenazah korban Mikael Manoh akhirnya diautopsi oleh pihak Kedokteran Forensik.
Proses autopsi tersebut berlangsung selama 3 jam lebih dimulai pada pukul 19.00 wita s/d pukul 21.30 wita di ruang IPJ RSB Titus Uly Kupang. Autopsi tersebut dilakukan oleh Dokter Forensik dr. Putu bersama penyidik reskrim disaksikan oleh perwakilan keluarga, Robby Manoh.
Saat berlangsungnya autopsi, istri korban, Berta Masaubat bersama beberapa sanak saudara yang mendampinginya tampak sabar menunggu. Kapolres Kupang Kota AKBP Anthon C Nugroho bersama beberapa personil tampak mengawal jalannya proses autopsi di depan ruang IPJ.
Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Kupang Syahrir Harahap bersama beberapa staf turut hadir dan melakukan koordinasi dengan pihak keluarga korban untuk penanganan jenazah korban.
Kajari Kabupaten Kupang Syahril Harahap mengatakan autopsi dilakukan atas permintaan keluarga korban. Autopsi juga dilakukan untuk mencari tahu penyebab kematian korban.
“Proses hukumnya sedang ditangani pihak kepolisian Polres Kupang Kota, sedangkan secara internal pihak Kanwil Hukum Ham juga melakukan proses pemeriksaan internal di Rutan Kupang,” ujar Harahap, Jumat (6/10/2017).
Terkait tanggungjawab terhadap jenazah korban, lanjut Harahap, pihaknya telah berkoordinasi dengan Rutan Klas IIB Kupang untuk mengurusi segala keperluan korban, serta pertanggungjawaban kepada pihak keluarga korban.
“Kami telah berkomunikasi dengan pihak rutan terkait penanganan terhadap korban, dan kami akan bertanggungjawab serta pihak rutan sebagai tempat penitipan tahanan kami pun wajib untuk bertanggungjawab dalam kasus ini,” tegas Harahap.
Adapun pertanggungjawaban pihak Rutan, menurut Harahap, pertanggungjawaban hukum dengan memberikan penjelasan dan keterbukaan dalam pengungkapan kasus ini.
“Pihak Rutan juga harus bertanggungjawab berupa materil bagi keluarga korban sesuai kaidah dan batas kewajaran,” kata Harahap.
Harahap menambahkan, kondisi korban saat menjadi tahanan Rutan dalam kondisi sehat, sehingga apabila pihak Rutan menilai bahwa korban mengalami depresi, maka perlu ada pemeriksaan dari Bidang Psikolog untuk memeriksa kondisi kejiwaan korban.
Kapolres Kupang Kota AKBP Anthon C Nugroho mengatakan pelaksanaan autopsi baru berlangsung beberapa hari setelah kematian korban karena dokter forensik masih berhalangan.
Pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi yang terkait, namun sejauh ini penyidik belum dapat memastikan penyebab kematian korban.
“Pada tubuh korban terdapat sejumlah luka akibat hantaman benda tumpul, namun kami akan memastikannya setelah tindakan otopsi terhadap jenazah korban,” tambah Anthon.
“Selain memeriksa para saksi, kami juga telah mengamankan sejumlah barang bukti berupa balok kayu dan baju milik korban saat kejadian,” imbuh Anthon.
Anton berjanji akan mengusut tuntas kasus ini dengan memeriksa sejumlah saksi terkait sehingga dapat mengungkap penyebab kematian korban.
Keluarga korban, Robby Manoh mengatakan, pihaknya meminta autopsi untuk mengetahui kepastian penyebab kematian korban.
Menurut Robby, proses autopsi sudah dilakukan dan jenazah korban sudah diserahkan ke keluarga korban. 
 
“Sudah diserahkan semalam dan besok Sabtu 7 Oktober 2017 jenazah korban dipulangkan ke rumahnya di Desa Honuk, Kecamatan Amfoang Barat, Kabupaten Kupang,” kata Robby kepada wartawan, Jumat (6/10/2017).
 
Dia berharap, proses hukum kematian Mikael Manoh terus berjalan agar bisa diketahui siapa pelakunya.
20171006_132912
 
Sebelumnya diberitakan, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) NTT Muhammad Diah membantah kematian Mikael Manoh akibat pengeroyokan. Menurutnya, tahana  hendak diamankan karena mengamuk dan menyerang salah satu sipir penjara.
 
Diah juga membantah informasi yang menyebutkan bahwa petugas rutan ikut menganiaya korban. “Oh, bukan, malah sebaliknya petugas kita yang diserang oleh dia (Mikael),” kata Diah, Rabu, 4 Oktober 2017.
 
Diah menerangkan, sebelum menyerang petugas, Mikael membobol pintu ruang isolasi yang sebagian materialnya berupa papan kayu utuh. Dia lalu membawa bongkahan kayu yang didapat dari pintu ruang isolasi.
 
“Kemudian menyerang petugas,” kata Diah.
 
Menurut Diah, tahanan tersebut baru dipindahkan dua hari dari Kejaksaan Oelamasi sebelum peristiwa penyerangan terjadi. Saat diserang, petugas rutan berjaga seorang diri dan tidak membawa alat pengaman diri, seperti pentungan.
 
Di saat bersamaan, warga binaan yang hendak salat Isya melihat penyerangan itu berusaha membantu petugas.
 
“Dalam peristiwa pergelutan itu, yang bersangkutan (korban) jatuh, dan informasi yang saya dapat kepalanya terbentur kemudian mengakibatkan dia meninggal dunia,” ujarnya.
 
Diah juga mengungkapkan tahanan itu masuk dalam keadaan stres. Saat ditempatkan di blok pengenalan lingkungan bersama tahanan lainnya, korban yang stres memukul tahanan lain dan akhirnya dipindahkan ke ruang isolasi.
 
“Ruang isolasi itu yang tadi malam ia jebol dan mengamuk,” kata Diah.
Berdasarkan SOP standar penyelamatan, apabila terjadi penyerangan seperti itu, Diah mengatakan petugas dengan kemampuannya harus berusaha mengamankan situasi agar tahanan tidak bisa mencelakakan orang lain maupun petugas sendiri.
 
Diah juga mengaku kondisi kesehatan mental tahanan yang tewas itu awalnya tak bermasalah. Hal itu berdasarkan jawaban yang disampaikan pihak Kejari Oelamasi. “Namun setelah dimasukkan ke ruang pengenalan lingkungan, baru dia menunjukkan ada gelaja orang depresi berat,” ucapnya.
 
Meski demikian, seluruh penjelasan yang disampaikannya hanya berdasarkan keterangan petugas maupun warga binaan lainnya mengingat rutan tak dilengkapi CCTV. Ia mempersilakan jika keluarga tahanan hendak menuntut pengusutan kasus hingga tuntas.
 
“Kita akan lihat dulu hasil autopsi dan apakah ini ada unsur kesengajaan atau tidak,” ujarnya. (Dian/TIM)

Komentar Anda?