Derita Buruh Kebun Tebu Sumba yang Kakinya Digilas Mobil Hingga Diterlantarkan Perusahaan

0
48

KUPANG– Seorang mantan buruh PT. Muria Sumba Manis (MSM), Dembi Tamar (45) kini harus terbaring menanggung penderitaan. Sudah setahun lebih, ibu satu anak ini menahan rasa sakit akibat kecelakaan kerja saat menjadi buruh di kebun tebu milik PT. MSM pada 15 Desember 2016 silam.

Penderitaan ibu Dembi bermula saat istrahat siang setelah dari pagi ia bekerja. Dia pun memilih bernaung di rimbunnya dedaunan tebu. Saat hendak memakan sirih pinang sebagai kebiasaannya setelah istrahat, sebuah mobil truck milik perusahaaan tiba-tiba melintas dan menggilas kedua kakinya.

“Sopir tidak tahu kalau saya lagi bernaung. Ia baru sadar setelah anak saya yang tak jauh dari tempat kejadian histeris,” ungkap Dembi kepada wartawan, Senin (1/10/2018).

Setelah mobil itu dipindahkan, baru diketahui kondisi Ibu Dembi sangat parah karena kedua tulang pahanya remuk digilas roda mobil.

Tak ada pertolangan pertama yang dilakukan baik oleh pihak perusahaan maupun karyawan yang lainnya. Keputusan yang diambil mandor perusahaan pada saat itu adalah membawa pulang Ibu Dembi ke rumah untuk mendapatkan pertolongan pengobatan secara tradisional.

“Saya mendapatkan pertolongan dengan seorang juru urut. Namun karena remuknya tulang yang begitu parah sehingga pengobatannya pun membutuhkan berbulan-bulan hingga saat ini memasuki satu tahun sembilan bulan,” ujar dia.

Saat itu kata dia, pihak perusahaan hanya menitipkan uang sebesar Rp. 150.000 sebagai biaya pengobatan.

Perusahaan Ingkar Janji

Atas derita yang dialaminya, perusahaan tempat ia bekerja pun menjanjikan akan tetap menjadikan dia sebagai karyawan aktif tanpa ada potongan upah hingga ia benar-benar sembuh dan dapat beraktivitas seperti semula.

Perusahaan berjanji, baik potongan hari libur atau hari raya semuanya dihilangkan. Bahkan, ia dijanjikan dengan gaji full sebesar Rp.57.000 per hari.

Perjanjian ini pun dibuat sejak bulan Januari 2017 hingga Desember 2017. Namun dalam perjalanan, PT. MSM ingkar janji. Upah ibu Dembi tenyataa seluruhnya dipotong. Pihak perusahaan beralasan sedang melakukan rolling tenaga kerja.

Memasuki bulan januari 2018, Ibu Dembi Tamar masih dalam keadaan terbaring karena belum mendapatkan kesembuhan. Di hari-hari sakitnya, ia menantikan gajinya yang dijanjikan perusahaan. Namun, hingga kini janji pihak perusahaan dengan jaminan kesejahteraan hingga mendapatkan kesembuhan tak kunjung datang tanpa pemberitahuan kepada korban dan keluarganya.

“Sejak sakit saya sudah tidak pernah terima lagi gaji seperti yang dijanjikan. Sudah sembilan bulan saya terbaring sakit,” katanya.

Perjuangan Aktivis Lingkungan

Kasus ini terkuak berkat perjuangan beberapa aktivis lingkungan yakni, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI NTT), Lokataru Law and Human Rights, Aliansi Masyarakat Adat (AMAN) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Waingapu.

Saat melakukan investigasi di hampir seluruh wilayah konsesi PT Muria Sumba Manis (MSM), Sabtu 15 September 2018, tim ini berhasil menemukan satu kejadian luar biasa yang selama ini tidak pernah terungkap dan menjadi rahasia publik. Mereka menemukan Ibu Dembi Tamar terbaring kaku dalam penderitaan.

Hingga akhirnya, pada tanggal 16 September 2018, tim ini membawa Ibu Dembi ke rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan medis.

“Kami menemukan ibu Dembi, kondisinya memprihatinkan. Kami menduga Ibu Dembi mendapat tekanan dari PT. MSM untuk tidak boleh menceritakan ke siapapun, tetapi syukur, dia sudah ceritakan sebenarnya,” ujar  Koordinator Walhi NTT, Petrus Ndamug.

Dia mengatakan, kejadian yang di alami Ibu Dembi merupakan cerminan buruknya perlakuan PT.Muria Sumba Manis dalam memberikan pelayan dan jaminan kepada para buruh.

Janji semanis gula yang pernah dilontarkan secara lisan kepada Ibu Dembi Tamar dan keluarga merupakan sikap keji yang seharusnya tidak dapat ditolerir. Ironisnya, kata dia, pemerintah Sumba Timur selaku pihak yang seharusnya bertanggungjawab penuh atas keselamatan tenaga kerja atau buruh seakan menutup mata.

“Kejadian ini seakan menjadi bau amis yang ditutup serapat mungkin agar tak tercium pihak lain, namun akhirnya terkuak juga,” katanya.

Sebagai aktivis yang bernaung di organisasi yang fokus pada perjuangan keadilan rakyat, Wahi NTT menyatakan tujuh pernyataan tegas :

1. Meminta Gubernur NTT segera menindaklanjuti kejadian ini agar korban segera mendapatkan upaya medis yang layak.

2. Meminta Gubernur NTT segera memberikan peringatan keras terhadap Pemda Sumba Timur karena lalai dalam pengawasan tenaga kerja.

3. Meminta Kapolda NTT melakukan penyelidikan dan penyidikan atas kejadian tersebut.

4. Meminta Bupati Sumba Timur Segera mencabut Izin PT Muria Sumba Manis.

5. Meminta Bupati memerintahkan dinas terkait agar korban mendaptkan hak-haknya

6. Meminta Djarum Group dengan anak perusahaan PT Muria Sumba Manis memberikan semua hak-hak korban

7. Meminta pihak Kepolisian Resort Sumba Timur melakukan pengawasan terhadap korban dalam upaya mendaptkan pelayanan medis. (DIAN/OK/L6)