Aksi Memalukan Satgas Trafficking Disnakertrans NTT Terlantarkan Mahasiswi Alor di Bandara El Tari

0
5

KUPANG– Seorang mahasiswi asal Kabupten Alor, Selfin Etidena ditahan peugas Satuan Tugas Anti Trafficking Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTT di bandara El Tari Kupang, Jumat (4/1/2019) sekitar pukul 14.00 wita. Setelah ditahan Selfin malah diterlantarkan. Ia ditahan karena tidak menunjukan kartu mahasiswa (KTM) saat pemeriksaan.

Baca juga : Kapal Motor Sangke Palangga Karam di Pulau Pasir Nagekeo, Bagaimana Nasib 83 Penumpang?

Peristiwa itu terjadi ketika Selfin hendak kembali ke Jakarta dari bandara Mali Alor dan transit di Bandara EL-tari kupang. Seperti biasanyanya ketika hendak melakukan penerbangan setiap penumpang wajib menunjukan kartu tanda penduduk (KTP) dan tiket sebagai syarat mutlat untuk melakukan penerbangan. Namum kali ini selain tiket dan KTP, Kartu Mahasiswa asli pun diminta Sattgas Nakertras di bandara El-Tari Kupang.

Selfin menuturkan, ketika hendak melakukan transit, ia ditanya petugas Satgas Nakertras tujuan keberangkatannya. Ia pun menjawab jika ia akan ke Yogyakarta. Petugaspun kembali bertanya tujuan ia ke Yogyakarta. Ia lagi-lagi menjelaskan bahwa ia seorang mahasiswi semestwr VII yang baru selesai PKL di Kabupaten Alor sejak bulan Agustus 2018 lalu.

“Saya sudah tunjukan KTP dan tiket, tetapi petugas itu paksa harus tunjukan kartu mahasiswa sementara kartu mahasiswa saya tidak sempat bawa. Biasanya yang diminta kan hanya KTP atau tiket,” tutur Selfin.

Baca juga : Dosen Bejat di Kupang Digrebek Istri Anaknya Saat Asyk Kencan dengan Mahasiswi

Petugas tersebut kemudian memaksa Selfin untuk segera mengambil Ijazahnya, tetapi Selfin menjawab, bagaimana ia mau ambil sementara barang bawaannya ada di bagasi. Tidak puas petugas itu kemudian menyurunya untuk menelpon rekan mahasiswanya untuk membuktikan kalau ia mahasiswa atau bukan. Gadis itu pun langsung menelpon Ketua Senatnya di kampus untuk bicara dengan petugas, tetapi setelah bicara petugas itu masih tetap tidak percaya sehingga petugas menyuruh Selfin menelpon ibunya di Alor. Usai menelpon, petugas itu langsung menyatakan jika yang ditelepon bukan ibu Selfin.

Sementara sedang berbicara, waktu chek-in berakhir dan pesawat Lion Air tujuan Kupang-Yogyakarta pun lepas landas dan Selfin tidak jadi berangkat. Ia pun bertanya pada petugas itu tentang bagaimana dengan keberangkatannya tetapi petugas itu malah mengabaikannya.

Tak putus asa, Selfin kemudian menelpon keluarganya di Kupang datang ke bendara untuk melobi. Namun petugas itu tetap meminta kartu mahasiswanya (KTM). Lagi-lagi, Selfin kembali menelpon rekannya di Yogyakarta untuk foto kartu mahasiswanya dan dikrim via WhatsApp. Namum foto KTM yang di kirim itu setelah ditunjukan, para petugas malah tidak percaya jika itu bukan KTM milik Selfin.

“Petugas tidak percaya bahkan dia katakn itu semua hanya modus,” ujar Selfin.

Karena bagasi Selfin sudah diberangkatkan ke Yogyakarta, keesokan harinya Selfin kembali ke bandara untuk mengambil barangnya sekalian melobi untuk keberangkatannya. Tetapi petugas Satgas malag mengarahkannya untuk segera menghadap Plt Kadis Nakertrans NTT.

Senin, 7 Januari 2019, Selfin dan keluarganya mendatangi kantor Nakertrans tetapi tidak di izinkan untuk bertemu ibu Kadis dan kepala bidang pembinaan hubungan industrial dan pengawasan ketenagakerjaan. Mereka malah diarahkan untuk bertemu kembali petugas yang menahannya.

“Kami ikuti arahan, setelah bertemu kami malah disalahkan karena tidak membawa KTP asli,” katanya.

Hingga saat ini, Selfin masih diterlantarkan pihak Nakertrans Propinsi NTT di Kota Kupang.

Reaksi Keluarga Alor

Peristiwa penahanan dan penerlantaran,  Selfin Etidena menuai reaksi keras dari Ikatan Keluarga Alor (IKA) Kupang dan Kerukunan Mahasiswa Nusa Kenasi (Kemanhuri) dan sejumlah organisasi mahasiswa asal Alor di Kupang. Mereka mempertanyakan alasan mendasar penahanan Selfina oleh pihak Satgas.

“Apakah dilihat dari ciri fisik dan penampilannya? Jika itu yang menjadi dasar atau parameter untuk menahannya maka kami melihat simpulan dan tindakan petugas tersebut diduga berbauh RASIS,” ujar Erson Atamau, perwakilan pemuda IKA Kupang, saat gelar konfrensi pers di Asrama Pemda Alor, Kamis (10/1/2019).

Menurut Erson,  semestinya pihak satgas memberikan layanan transportasi dan akomodasi sebagai bentuk tangung jawab moril dan atas nama kemanusiaa saat menahan Selfina, bukan malah dibiarkan terlantar di bandara.

“Untung saja, Selfina punya keluarga di Kupang, kami tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada dia jika tidak miliki keluarga di Kupang. Tindakan yang kami pandang sewenang-wenang ini telah melukai hati kami sebagai keluarga, kami berpikir jika hal ini dibiarkan maka akan muncul fenomena Selfina-selfina lainnya di bumi Flobamora,” jelasnya.

Dia menduga tindakan yang telah dilakukan petugas Satgas adalah bentuk tindakan perlawanan terhadap kebijakan Moratorium TKI oleh Gubernur NTT. Sebab dari kronologi peristiwa, terkesan pihak Satgas Nakertrans sedang sengaja ingin membuat persoalan dengan mengada-ada regulasi yang belum jelas untuk manarik kebencian masyarakat terhadap program Moratorium TKI oleh Gubernur NTT.

Dia meminta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTT bertanggung jawab penuh atas apa yang menimpa Selfina.

Berikut lima tuntutan keluarga Alor :
.
1. Dinas Nakertrans Provinsi NTT harus bertangung jawab atas kerugian waktu kulia yang telah di alami Selfin Etidena.

2. Dinas Nakertrans provinsi NTT Segera melakukan Jumpa Pers dan menyatakan permohonan Maaf kepada Publik Alor, Keluarga, dan juga Kampus STT Galilea Indonesia. Jika dalam 2×24 tidak melakukan permohonan maaf maka Ikatan Keluarga Alor Kupang dan KEMAHNURI akan duduki kantor Nakertrans NTT.

3. Segera copot Jabatan Kepala Bidang pembinaan hubungan industrial dan pengawasan ketenagakerjaan Dinas Nakertrans NTT karena dinilai tidak mampu membina petugas (satgas) yang ditempatkan di bandara El-tari Kupang.

4. Segera copot jabatan petugas satgas nakertrans dimaksud, karena diduga telah melakukan tindakan RASIS terhadap suku bangsa Alor di bandara El-tari Kupang.

5. Gubernur NTT segera memanggil Plt. Kepala Dinas Nakertrans Provinsi NTT untuk melakukan pembinaan yang selayaknya. (OK/L6)