Niat Kredit Uang, Kakek 74 Tahun Malah Ditipu Puluhan Juta oleh Marketing PT Taspen Asa Kupang

0
4

KUPANG– Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Pepatah ini pantas ditujukan pada tim marketing Taspen Asa Kupang, Christin Uskono bersama rekannya Gae Lomi dan Primus Lake.

Sebagai seorang marketing yang seharusnya melaksanakan tugas dan tanggungjawab secara profesional, jujur dan bertanggungjawab, namun justru kesempatan itu digunakana untuk mengelabui dan menggelapkan uang nasabah.

Baca juga : Aksi Memalukan Satgas Trafficking Disnakertrans NTT Terlantarkan Mahasiswi Alor di Bandara El Tari

Aksi bulus marketing Taspen Asa ini setelah seorang kakek berusia 74 tahun bernama, Benediktus Sani (74) warga Jalan Hasanudin RT 25 RW 01 Kelurahan Maubeli, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT kehilangan uang di rekeningnya. Merasa tak puas, Benediktus ke kantor BNI Cabang Kefamenanu melakukan print out dan ditemukanlah sejumlah transaksi gelap dan pengalihan sejumlah dana yang tidak diketahui entah kemana.

“Petugas BNI Cabang Kefa dan Bank BNI Kefa memberi penjelasan bahwa benar terjadi sejumlah penggelapan dana yang ditransfer ke rekening pribadi Marketing Taspen Asa, Christin Uskono sebesar Rp 3,5 juta dan Rp 10 juta. Belum lagi sisa uang Rp 20 juta yang masih raib,” tutur Benediktus kepada wartawan, Sabtu (12/1/2019).

Merasa ditipu, pensiunan PNS berijazah SR ini didampingi kuasa hukum dari LBH Surya NTT, Herry F.F Battileo, SH. MH membuat laporan polisi di Polda NTT, Sabtu Januari 2019 dengan nomor laporan LP/B/14/I/2019/SPKT Tanggal 12 Januari 2019.

Kronologi Penipuan

Benediktus menuturkan, kejadian itu berawal dari kedatangan Christin Uskono selaku marketing Taspen Asa sebagai vendor dari BNI cabang Kupang bersama koordinator Taspen Asa wilayah Kupang, Gae Lomi dan Primus Lake ke rumahnya pada Juli 2018 menawarkan kredit Taspen Asa melalui BNI Cabang Kupang.

Untuk meraih simpati, tim marketing Taspen Asa menc eritakan kelebihan kredit dana pensiun di Taspen Asa lewat BNI cabang Kupang. Christin bersama rekannya, kata dia, malah mengaku sangat menarik kredit di Taspen karena mendapat sejumlah kemudahan seperti setiap bulan gaji bisa naik dan bunga di BNI sangat kecil.

“Merasa tertarik, akhirnya saya mau untuk kredit di PT. Taspen Asa lewat BNI cabang Kupang meski saat itu saya masih berutang di Koperasi Nasari yang belum lunas,”  katanya.

Setelah mengurus semua persyaratan pengajuan kredit di Taspen Asa Kupang lewat BNI Cabang Kupang, sekitar 27 Juli 2018, Benediktus bersama isterinya Monica Buat Tlaan dijemput pihak marketing Taspen Asa menuju Kupang untuk mengurus pencairan kredit. Namun, dana kredit belum bisa dicairkan karena BNI beralasan masih dirposes di kantor pusat.

“Karena gagal kami memutuskan kembali Kefa dan batalkan kredit,” ungkapnya.

Sekitar Agustus 2018, Christin bersama timnya kembali menemui Benediktus dan membujuknya untuk mengajukan kredit di BNI cabang Kefa. Namun, pihak BNI Cabang Kefa menolaknya karena Benediktus masih berhutang di Koperas Nasari. Tak sampai disitu saja, Christin bersama timnya membawa kakek pensiunan PNS itu menuju BNI Cabang Atambua. Alhasil, pihak bank menyetujui pengajuan kredit.

“BNI cairkan Rp 110 juta padahal saya ajukan Rp 124 juta dan herannya utang saya tetap tertulis Rp 124 juta,” katanya.

Setelah pencairan di BNI cabang Atambua, Christin bersama timnya menuju kantor Koperasi Nasari untuk menutup pinjaman Benediktus sebesar Rp 70 juta. Sayangnya, uang sisa dari kredit di BNI cabang Atambua tidak diserahkan ke Benediktus.Bahkan, buku rekening dan ATM milikya dibawa oleh marketing Taspen Asa, Christin bersama timnya.

“Saya sempat tanya tetapi kata ibu Cristin bahwa uang sisa saya aman. Saya tidak curiga sama sekali karena saya yakin uang sisa sekitar Rp 20 juta akan diberikan ke saya, ternyata tidak,” ungkapnya.

Benediktus pun pasrah. Ia bahkan tak mencaritahu keberadaan Christin dan rekannya. Tiga bulan berlalu, sekitar 1 Agustus 2018, salah satu anak buah Crisitin  Primus Lake menemui Benediktus mengembalikan kwitansi penyetoran pembekuan sedangkan buku rekening dan kartu ATM masih ditahan Christin dan timnya.

Selang tiga minggu kemudian, buku rekening dan kartu ATM milik Benediktus dikembalikan oleh orang suruhan Christin. Rupanya aksi Christin tak sampai distu saja, 12 November 2018, Christin kembali bersama timnya ke rumah Benediktus dan memaksa mengambil kembali kartu ATM dan buku rekening.

Meski menolak Benediktus akhirnya menuruti permintaan Christin. Namun, setiba di ATM, ia tak diajak masuk. Usai melakukan transaksi, Benediktus diantar ke rumahnya dan Christin pun langsung pergi. Bahkan sebelum pergi, Christin masih meminta uang Rp 500 ribu untuk transportasi.

“Dia ambil kartu ATM dan paksa saya ke ATM. Waktu itu isteri saya tidak mau karena sudah curiga tetapi Christin tetap paksa. tandas Benediktus.

Seminggu kemudian, Benediktus bersama anaknya hendak mengambil uang untuk keperluan rumah tangganya. Namun seluruh uang tabungan sejumlah puluhan juta telah raib.

“Anak saya cek saldo ternyata hanya sisa Rp 428 ribu. Kami cek ke kantor BNI cabang Kefa untuk print out tetapi hasilnya sama. Disitulaj saya sadar ternyata saya sudah ditipu tim marketing Taspen Asa Kupang,” pungkas Benediktus.

Kuasa hukum Benediktus, Herry F.F Battileo, SH.MH mengatakan, Benediktus telah ditipu pihak Taspen Asa Kupang. Pihak Taspen, kata Herri, diduga melanggar pasal 378 dan atau pasal 372 KUHP melakukan penipuan dan penggelapan. Dia meminta polisi bekerja profesional untuk mengungkap kasus ini.

“Polisi harus profesional, karena kasus ini akan jadi pintu masuk mengungkap kasus penipuan lain yang terjadi di PT. Taspen Asa Kupang,” tegas Herry. (OK/L6)