Menuju Industri Pariwisata Sikka, Ini Empat Skala Prioritas yang Perlu Diterapkan

Menuju Industri Pariwisata Sikka, Ini Empat Skala Prioritas yang Perlu Diterapkan

550 Read

SIKKA– Kabupaten Sikka merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi wisata menjanjikan. Potensi itu harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan melalui pembangunan pariwisata.

“Orang Maumere atau orang Flores pada umumnya cepat akrab dengan orang yang baru dikenal dan ini menguntungkan relasi dengan wisatawan,” ujar Martinus Wodon, anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah Kabupaten Sikka dalam diskusi pariwisata di aula Sea World Club Beach Resort & Dive Centre di Waiara, Sikka Rabu (16/1/2019).

Baca juga : Diajak Main ke Rumah, Gadis 17 Tahun di Sikka Malah Digarap Pacar

Ia mengatakan, potensi wisata merupakan kekuatan sebuah daerah, karena itu sangatlah penting mendiskusikan potensi wisata. Dari diskusi, akan merangsang sikap optimis yang membangun percaya diri.

“Banyak kalangan di NTT gampang pesimis, karena terlalu sering membicarakan masalah dan kelemahan daerah sendiri, pada hal pariwisata adalah kekuatan daerah kita,” kata Martinus yang pernah bekerja 12 tahun di dunia pariwisata Paris.

Menurut dia, ada empat skala prioritas pembangunan pariwisata di Maumere dan NTT pada umumnya. Dari segi kebijakan aturan tata ruang adalah hal yang penting dan bisa sangat berpengaruh pada industri pariwisata.

“Tata ruang mempertimbangkan pengembangan pariwisata dan menjamin perkembangan bidang lain, namun tak boleh saling berbenturan,” ujarnya.

Selain itu, General Manager Sea World Club ini mengatakan, pariwisata seharusnya memakmurkan masyarakat dan tetap menjaga lingkungan alam supaya tetap lestari. Agar pemeliharaan lingkungan terjaga baik, perlunya ada peningkatan kapasitas yang terus menerus pada para penanggung jawab desa wisata.

“Desa-desa wisata semestinya mampu mandiri dengan tata kelola yang baik, menekankan pentingnya kebersihan dan pengolahan daya tarik wisata di desa-desa tersebut,” jelasnya.

Baca juga : Agatha Sang Juara Dunia Pencak Silat Asal Sikka, Kini Terlantar

Yang tak kalah pentingnya, adalah manfaat ekonomi dari pariwisata. Bagi Martinus, Dampak ekonomi pariwisata saat ini belum dirasakan oleh masyarakat Sikka. Pariwisata di Kabupaten Sikka belum dikelola dan dikembangkan sebagai sebuah industri. Hal ini harus didorong dengan pola promosi pariwisata yang proaktif dan sistematis di dalam dan di luar negeri. Hal ini tidak hanya terkait dengan destinasi yang sudah ternama, tetapi juga destinasi-destinasi baru.

“Kita juga harus proaktif membangun citra pariwisata Maumere. NTT bukan hanya Komodo dan Kelimutu, danau kawah tiga warna. Maumere juga memiliki sederet destinasi wisata unggui, seperti, Pulau Pangabatang, Pulau Kojadoi, Pulau Besar, Pulau Pemana, Pulau Babi, Gunung Egon, Air Panas Blidit, Koka Beach, Tanjung Kajuwulu, Kampung Nelayan Wuring, Pantai Doreng, Bukit Nilo, Air terjun Kembar Murusobe, Paga Beach,  Mangrove Magepanda, Pantai Waiara, Danau Semparong danau air asin di Pulau Sukun, Batik Wair dan lainnya,” bebernya.

Menuju Industri Pariwisata

Ia mengatakan, meskipun industri manufaktur membutuhkan system dan infrastruktur yang mahal dan lama namun, industri pariwisata sebenarnya sangat murah, karena memanfaatkan potensi yang ada.

“NTT sudah mepunyai potensi wisata, dan tugas kita tinggal menumbuhkan dan mengembangkan. Memang harus ada penataan, supaya yang dimiliki tidak kita rusaki. Kembangkan manfaatnya, sebagai upaya mengarus-utamakan pariwisata Kabupaten Sikka,” kata peraih The Best Employ Marco Polo Hotel Singapore 1997 ini.

Baca juga : Terbukti Miliki Sabu, Dua Warga Sikka Ditangkap Saat Asyk di Panti Pijat

Ia menjelaskan, tta ruang Kota Maumere seharusnya dikelola dengan baik sebagai daya dukung pariwisata dengan menampilkan berbagai atraksi khas Sikka yang memberikan kesan mendalam bagi wisatawan seperti sentra kulinari, cindera mata, panggung budaya, city tour.

Kerjasama berbagai pihak harus ditingkatkan untuk kemajuan bersama antara semua desa dengan tujuan membangun kolaborasi dengan desa wisata yang lain. Selain itu, menjalin kerja sama dengan pegiat pariwisata, baik swasta maupun pemerintah, termasuk didalamnya melibatkan secara aktif unsur Forkompinda.

“Pemerintah seharusnya terus membuka dialog dengan para pegiat pariwisata dalam membangun tata ruang dan tata kelola pariwisata di Sikka. Kita rencanakan bersama, kita kerjakan bersama, dan manfaatnya akan kita rasakan bersama,” pungkasnya. (Jhn. DGZ)

Komentar Anda?