Terungkap, Pria yang Hamili Siswi SMP Ternyata Mahasiswa Politani Kupang

0
100

KUPANG– DS (14) siswi kelas 2 salah satu SMPN di Kabupaten Kupang menjadi korban pemerkosaan pada Februari 2018. Akibatnya, gadis lugu itu mengandung dan kini sudah melahirkan bayi perempuan berusia dua bulan. Dia mengaku diperkosa pria bernama Aner Sabu mahasiswa salah satu universitas negeri di Kupang.

Baca juga :Kisah Pilu Derita Delti Seo, Siswi SMP Kupang Diperkosa, Hamil Hingga Diterlantarkan

Dari pengakuan korban, media ini melakukan penelusuran di berbagai kampus. Hasil penelusuran terungkap jika Aner Sabu merupakan mahasiswa aktif semester tiga di Universitas Politeknik Pertanian Negeri Kupang (Politani).

Direktur Politeknik Negeri Kupang, Ir. Thomas Lapenangga, MS berjanji akan memberi sanksi tegas.

“Besok saya akan kumpulkan teman-teman yang memiliki kepentingan untuk segera mengeluarkan surat Drop Out (DO). Dan teman-teman wartawan bisa kembali mendapatkan informasi terkait dengan surat keputusan yang kami keluarkan untuk persoalan tersebut,” tegas Thomas kepada wartawan, Rabu (16/1/2019).

Dia mengatakan, kejadian oknum dosen berselingkuh dengan mahasiswi beberapa waktu lalu menjadi tamparan keras kampus negeri yang dipimpinnya itu. Karena itu, ia akan memberi sanksi tegas bagi dosen ataupun mahasiswa yang telah mencoreng nama universitas.

“Kami tidak mau memelihara orang-orang yang tidak memiliki citra yang baik. Kalau saja dari jauh hari saya sudah mendapat informasi ini maka mahasiswa  yang bersangkutan sudah dikeluarkan,” katanya.

Ia berharap seluruh civitas akademika Politeknik Pertanian Negeri Kupang belajar dari kedua persoalan ini dan  bisa menjadi referensi kehidupan bermasyarakat yang berintelektual dengan segala kebijakannya dalam mengambil keputusan agar tidak mencederai pribadi maupun keluarga besar Politeknik Pertanian Negeri Kupang ini.

“Kepada teman-teman media atau wartawan saya berterima kasih atas perhatiannya untuk bersama mengawasi dan mengontrol lajunya perkembangan dunia pendidikan khususnya di politeknik pertanian Negeri Kupang. Dalam sebuah organisasi yang melibatkan banyak orang pasti diantara mereka ada yang memiliki kelakuan yang buruk,” tandas Thomas.

Deti-detik Pemerkosaan

Kepada wartawan, DS menceritakan detik-detik ia diperkosa lelaki yang selama ini ia anggap kakaknya sendiri. Ia mengaku lelaki itu bernama, Aner Sabu, seorang mahasiswa universitas negeri di Kupang.

DS pose bersama keluarganya

Sore itu, usai memasak untuk persiapan makan kedua orangtuanya, ia didatangi Aner di rumah. Aner mengajak DS menemaninya mengambil tugas kuliah di temannya di wilayah Oesapa, Kota Kupang. Ajakan itu ditolak DS dengan alasan kedua orangtuanya belum pulang. Namun, ia tetap dibujuk Aner.

“Saat itu bulan Februari 2018, dia (Aner) ajak ambil tugas dan langsung kembali ke rumah. Akhirnya saya ikuti saja. Saat itu sekitar jam 5 sore,” tutur DS.

Rupanya ajakan Aner itu hanya sebagai modus untuk melancarkan aksi bejatnya. Dalam perjalanan, sepeda motor yang dikemudikan Aner membelok ke arah Penfui. Karena sedang hujan, DS tak berbicara apa-apa. Ia baru sadar ketika sepeda motor yang ditumpanginya berhenti di area Bukit Cinta. Saat hendak bertanya, tiba-tiba tangannya sudah ditarik paksa oleh Aner menuju hutan gamal. DS berusaha teriak minta pertolongan, namun mulutnya langsung dibekap tangan kekar, Aner.

Meski dalam kondisi terancam, DS sempat malakukan perlawanan berusaha melarikan diri. Ia dikejar oleh Aner, namun gadis malang itu terjatuh ketika sebuah kayu panjang mengenai kepalanya. Dia diancam dibunuh jika masih saja melawan. DS semakin ketakutan hingga akhirnya pasrah saat seluruh pakaiannya dibuka paksa.

Kesucian Siswi SMP itu akhirnya direnggut paksa mahasiswa asal TTS itu. Dalam kondisi lemas usai diperkosa, DS masih sempat memohon untuk segera diantar pulang, karena hari sudah malam. Namun, lagi-lagi tubuh kecil itu ditindih. Bejatnya Aner, di tengah hutan gamal itu, ia kembali memperkosa DS hingga tiga kali. Usai melampiaskan nafsu bejatnya, Aner kembali mengancam DS agar tidak menceritakan pada orangtuanya.

“Tiga kali dia perkosa saya. Sekitar jam 8 malam dia antar pulang. Dia ajarkan, kalau orangtua tanya, bilang saja ban motornya pecah sehingga kemalaman,” katanya.

Waktu terus berjalan, kejadian itu disimpannya dalam hati. DS pun bersekolah seperti biasa. Hingga sekitara April 2018, DS diketahui hamil ketika orangtuanya membawanya ke petugas kesehatan.

Proses Hukum

Kehamilan DS akhirnya diketahui pihak sekolah. Ukribat dan Marci, orangtua DS dipanggil kepala sekolah. Lewat kepala sekolah, DS dan orangtuanya disuruh mengadu ke lembaga Rumah Perempuan Kupang.

Berkat bantuan lembaga ini, DS dibawa ke Polsek Tarus untuk membuat laporan polisi. Polisi pun melakukan penyidikan. Selain mengambil keterangan korban dan orangtuanya, polisi juga sudah mengamankan baju dan pakian dalam korban sebagai barang bukti.

“Saya hanya minta pelakunya dihukum biar bisa sadar,” harap Marci, ibunda DS.

Kapolsek Kupang Tengah, AKP Bertha Hangge  mengatakan, kasus ini dilaporkan November 2019 lalu dan sudah pada tahap penyelidikan. Namun, pihaknya masih terkendala anggaran uji DNA.

“Korban sudah mengaku, terduga pelaku juga sudah diperiksa, tinggal tunggu hasil tes DNA untuk mengetahui ayah biologis, karena ini bukan lagi kasus pencabulan, karena korban sudah melahirkan, sehingga harus tes DNA untuk memenuhi dua alat bukti,” jelas Bertha.

Dia meminta keluarga korban untuk menghormati proses hukum. Karena kasus ini akan terus diproses hingga tuntas.

“Satu saksi bukan saksi, karena tidak ada yang tahu pelaku membawa korban, sehingga harus tes DNA untuk penuhi alat bukti. Sekarang tahun anggaran baru, kita tunggu DIPA untuk dianggarkan dan kita tes DNA di Labfor Polri,” katanya.

Bayi Perempuan

30 November 2018, DS harus bertaruh nyawa. Ia berjuang sendiri hingga melahirkan bayi perempuan di RS Leona Kupang. Bayi sehat dengan berat 3 kg itu dilahirkan normal tanpa operasi.

Sungguh luar biasa. Disaat Kota Kupang lagi diramaikan dengan kasus pembunuhan bayi oleh mahasiswa, siswi SMP ini malah memilih mempertahankan bayinya meski tanpa ayah yang bertanggung jawab.

Kini, bayi itu sudah berumur dua bulan. Hidup di gubuk dan makan seadanya, namun gadis kecil itu tetap tegar. Menyusui, merawat bayinya penuh kasih. (Ayub Malafu/Amar Ola Keda)