Dugaan Penganiayaan Warga oleh Bupati TTU, Ini 4 Tuntutan Front Perjuangan

0
0

KEFAMENANU- Puluhan masa yang tergabung dalam Front Perjuangan Masyarakat Ponu (FPMP) menggelar aksi demonstrasi di Kantor DPRD TTU, Rabu (16/1/2019). Mereka mendesak polisi segera mengusut tuntas kasus penganiayaan yang diduga dilakukan Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Raymundus Fernandez bersama rombongan terhadap, Yoakim Ulu Besin, warga desa Ponu, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten TTU pada 21 Desember 2018 lalu.

Baca juga : Polisi Tetapkan 3 Tersangka Kasus Penganiayaan Keluarga Pasien di TTS

Koordinator aksi, Valen Kefi mengatakan, aksi represif itu berawal dari penolakan warga Desa Ponu terhadap rencana pembangunan tambak garam di wilayah itu.

Warga di wilayah SP 1 dan SP 2, Desa Ponu Kecamatan Biboki Anleu melakukan protes karena hingga kini lahan yang ditempati sejak 2000 silam belum memiliki sertifikat. Ironisnya, meski Pemda belum menerbitkan sertifikat, namun warga dibebankan pajak sebesar Rp.5000 per-KK.

“Inikan aneh, warga belum mendapatkan surat bukti legal kepemilikan atas tanah seperti yang dijanjikan Pemda, tetapi sudah membebani pajak,” ujar Valen kepada wartawan, Kamis (17/1/2019).

Baca juga : Jenazah Korban Penganiayaan di Rutan Kupang Diautopsi

Dia menjelaskan, di Kabupaten TTU terdapat 76 desa defenitif yang masuk dalam kawasan kehutanan dan 23 desa memperoleh SK review dari kementerian yang terbit pada Mei 2016. Namun pemerintah TTU tidak memiliki tindakan tegas dalam penyelesaian persoalan tersebut, bahkan berfantasiria dengan iven pariwisata seperti pacuan kuda, road race, lomba dansa dan lainnya .

Kronologi Pengeroyokan

Kasus pengeroyokan yang dialami oleh Yoakim Ulu Besin bermula dari pernyataan Pemda TTU yang mengatakan wilayah Ponu akan dibangun tambak garam dengan luas lahan 600 hektar di wilayah SP 1 dan SP 2. Kebijakan itu pun ditentang masyarakat yang hampir seluruhnya petani dan peternak yang tanahnya masuk dalam kawasan tambak garam tersebut.

BACA JUGA:   Baru 4 Bulan Menikah, Ibu Muda di Sikka Ditemukan Tewas

Koordinator lapangan, Oktovianus Usboko menuturkan, pada 20 Desember 2018, Yoakim Ulu Besin yang biasa disapa “Bapak Ulu”  di undang oleh Camat Biboki melalui sopir pribadinya bernama, Antoin untuk menghadiri pertemuan dalam rangka sosialisasi pengusaha dan pemerintah terkait rencana program pemerintah membangun tambak garam.

Baca juga : Kisah Inspiratif Ray Fernandez Dari Hidup Susah Hingga Jadi Bupati

Pada 21 Desember 2018 sekitar pukul 10.00 wita, Bapak Ulu bersama masyarakat lainnya menunggu kedatangan bupati TTU dan tiga orang pengusaha tambak garam di kantor camat. Kurang lebih jam 12.00 wita, rombongan bupati tiba di kantor camat Biboki Anleu.

Kedatangan rombongan bupati langsung menuju ke ruangan camat, padahal kondisi aula kantor camat sudah disiapkan oleh protokoler untuk melakukan sosialisasi tentang rencana pembangunan tambak garam. Sekitar 5-10 menit, Bupati TTU keluar dari ruangan camat dan bersama  rombongan menuju lokasi SP 1 yang direncanakan tanpa mempedulikan masyarakat yang sedang menunggu.

Karena bupati dan rombongan terlebih dahulu menuju lokasi tambak garam, Bapak Ulu bersama warga lainnya mengikuti rombongan bupati untuk menyampaikan keluhan mereka.

Kepada bupati, Bapak Ulu menyampaikan agar sosialisasi pembangunan tambak garam harus dilakukan karena lokasi itu merupakan tempat mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, keluhan Bapak Ulu itu direspon oleh bupati dengan mengejarnya hingga berujung pengeroyokan yang dilakukan oleh bupati bersama rombongan.

Berikut 4  tuntutan FPMP :

1. Segera terbitkan serifikat tanah bagi masyarakat SP 1 dan SP 2 yang bermukim di wilayah SP 1 dan SP 2.

2. Tolak wacana pembangunan tambak garam di wilayah SP 1 dan SP 2 yang basis produksinya adalah pertanian, peternakan dan nelayan.

3. Mendesak kapolres TTU untuk segera mengusut tuntas kasus pengeroyokan oleh bupati dan rombongan terhadap masyarakat (Bapak Yoakim Ulu Besin) sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di negara republik indonesia.

BACA JUGA:   Baru 4 Bulan Menikah, Ibu Muda di Sikka Ditemukan Tewas

4. Hentikan kriminalisasi kepada rakyat. (OK/L6)