Proyek Pembangunan JTP Sagu Dinilai Gagal Perencanaan, Siapa yang Bertanggungjawab?

0
3

LARANTUKA– Mubazirnya pembangunan Jembatan Tambatan Perahu (JTP) di Desa Sagu, Kecamatan Adonara, Kabupaten Flores Timur memicu reaksi keras DPRD Flotim.

Ketua Komisi B DPRD Flotim, Yohanes Paru mengatakan proyek itu menelan anggaran 2,5 miliar dari Dana Alokasi Umum (DAU). Ia menilai proyek itu gagal perencanaan, pasalnya hingga kini tidak berfungsi.

“Itu berarti gagal perencanaan. Kesalahan ada pada konsultan perencana,” tegas Anis kepada wartawan, Senin (25/1/2019).

Baca juga :JTP Sagu Mubazir, Indikasi Korupsi?

Ia mengatakan, proyek tahun anggaran 2017 itu sudah PHO. Namun ironisnya, PPK malah meminta tambahan anggaran. Jika memagukan anggaran terhadap salah satu paket pekerjaan, dinas terkait seharusnya sudah punya kajian matang sehingga mampu menjawab kebutuhan.

“Ketika pengerjaan dimulai, harus melalui perencanaan yang matang, bukan setelah pengerjaan baru minta tambah anggaran. Itu berarti perencanan tidak matang

“Itu sama saja dinas terkait mengikuti pihak ketiga karena meminta anggaran tambahan. Intinya itu karena perencanaan tidak matang,” katanya.

Kadis Perhubungan, Anton Lebi Raya mengaku jika paket pengerjaan JTP itu sudah di PHO. Proyek itu akan dilanjutkan setelah permintaan tambahan anggaran disetujui.

“Akan ada pengerjaan lanjutan. Diperpanjang lagi ke arah laut kurang lebih 150 meter, tetapi butuh anggaran lagi,” kata Anton kepada wartawan, Jumat (25/1/2019).

Baca juga : Telan Anggaran Miliaran, Pasar Baru Larantuka Mubazir

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Leo Keban mengatakan lokasi pengerjaan JTP itu ditunjuk oleh kepala desa Sagu.

“Kami ditunjuk dua titik oleh kepala desa dan titik itu melalui tim survey,” katanya.

Asal Jadi

Aktifis perempuan Flotim, Icha Lamapaha mengatakan, pembangunan JTP Sagu itu terkesan asal jadi. Selain konstuksi bangunan tidak sesuai, JTP juga tidak dapat digunakan nelayan.

BACA JUGA:   Diterlantarkan Pemda dan Askab Flotim, Pemain Sepak Bola U-14 Nginap di Rumah Warga

“Masa namanya JTP tetapi perahu tidak bisa sandar. Ini gagal perencanaan. Seharusnya menjorok lagi  ke laut sekitar 150 meter kedalam, sehingga kapal nelayan bisa sandar untuk bongkar muat,” ujar Icha kepada wartawan, Kamis (24/1/2019).

Ia mengungkapkan, konstruksi pembangunan JTP itu sangat amburadul. Selain akses jalan masih tanah, jembatan menuju JTP itu juga masih menggunakan kayu.

“Dasarnya lumpur, hanya dibuat anyaman bronjong dan tidak pakai beton. Sampai sekarang proyek itu belum PHO. Ini konsultan pengawas, perencana dan pelaksana harus bertanggung jawab,” tegasnya. (DIAN)