Aksi Damai Warga Sikka Protes Pembuangan Limbah Berbahaya PLTMG 

Aksi Damai Warga Sikka Protes Pembuangan Limbah Berbahaya PLTMG 

296 Read

SIKKA– Puluhan warga yang tergabung dalam gerakan rakyat nian tana (GRANAT) Sikka menggelar aksi di lokasi Perusahaan Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) di Jalan Trans Maumere-Larantuka, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Rabu (6/2/2019).

Mereka mengecam hasil pembuangan limbah B3 dan anorganik oleh PLTMG yang telah mencemari ekosistem laut dan pengrusakan lingkungan hidup.

Baca juga : WALHI: Moratorium tambang tak segarang pernyataan Gubernur NTT

Aktivis Granat Sikka, Januarius Dunia mengatakan dari sisi lingkungan hidup, Granat Sikka telah mengidentifikasi ada upaya yang dilakukan oleh pihak kontruksi (PT.WIKA) bertindak diluar dari rekomendasi Dinas Lingkungan Hidup (Nomor: BLH.660.1/506/II/X/2016) yang termuat dalam dukumen UKL/UPL, dengan jenis pelanggaranya berupa pencemaran dan pengerusakan laut (PP No. 19 tahun 1999) di sekitar lokasi pengerjaan PLTMG, yang akan berdampak pada keberlangsungan ekosistem laut serta pengerusakan lingkungan hidup.

“Kami telah mengidetifikasi adanya praktek penambangan liar dan pengerusakan laut yang terjadi di sekitar pesisir pantai area PLTMG. Sehingga kami mendesak pihak kepolisian agar segera melakukan penangkapan terhadap pihak penambang,” ujarnya.

Ia mengatakan, selain pembuangan limbah pabrik, juga ada bangunan liar di areal PLTMG. Karena itu ia meminta segera diadakan konsultasi publik (sosialisasi) sehingga bisa mendapatkan IMB sesuai Perda Nomor 5 tahun 2015.

Ia juga mendesak PLTMG, melalui PT. MAN agar dalam penerimaan tenaga kerja harus merujuk pada kesepakatan yang sudah dibuat yakni prioritas orang lokal.

“Sejak dibangunnya PLTMG, hak-hak dasar orang lokal terus saja diabaikan. Proses penerimaan tenaga kerja oleh PT. MAN banyak ketimpangan, diskriminasi dan perlakuan tidak manusiawi terhadap warga lokal yang ingin melamar sebagai pekerja atau buruh,” katanya.

Ia mengancam bersama seluruh masyarakat Sikka akan menduduki PLTMG jika semua tuntutan tidak dipenuhi.

“Kami beri waktu 3×24 jam untuk menjawabi tuntutan kami. Jika tidak kami akan duduki,” tegasnya.

Ketua Granat Sikka, Ardianus Lawe mengatakan, tujuan terpenting dari pembangunan adalah kesejahteraan rakyat termasuk tenaga kerja.

Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, yang merata, baik materiil maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Namun hal ini berbanding terbalik dengan konsep pembangunan yang tertuang dalam dokumen UKL/JUPL yang menjadi dasar atau batu pijakan bagi pemerkarsa dalam menjalankan asas pembangunan dan dampak sosial dari pembangunan itu bagi masyarakat sekitar.

“Tenaga kerja sebagai pelaksana pembangunan harus dijamin hak dan kewajibannya dan dikembangkan daya gunanya,” tandasnya.

Berikut 5 tuntutan Granat Sikka : 

1. Mendesak pemerintah dan PLTMG, melalui PT. WIKA agar segera melakukan penanganan pengelolahan limbah B 3 dan anorganik karena di nilai mencemari lingkungan dan manusia sebagai pemanfaat pembangunan.

2. Mendesak agar segera melakukan konsultasi publik dan pengurusan IMB terkait adanya pembangunan liar.

3. Mendesak pihak kepolisian agar segera melakukan penangkapan terhadap pihak penambang.

4. Mendesak pemerintah dan PLTMG, melalui PT. MAN agar dalam penerimaan tenaga kerja (buruh), harus merujuk pada kesepakatan yang sudah dibuat (Prioritas Orang Lokal).

5. Mendesak manager PT.MAN, dalam waktu 1 x 24 jam menghadirkan orang yang memiliki kewenangan atas nama Putra, HRD pusat PT. MAN untuk berdialog. (J.dGZ)

Komentar Anda?