Pernyataan Kontroversi Wakil Gubernur NTT Picu Aksi Protes Mahasiswa

Pernyataan Kontroversi Wakil Gubernur NTT Picu Aksi Protes Mahasiswa

3,400 Read

KUPANG– Kasus pencekalan Selfina Etidena, mahasiswa asal Kabupaten Alor oleh Satgas human trafficking Disnakertrans NTT pada 4 Januari 2019 lalu belum menemui titik damai.

Kasus itu pun berujung pelaporan terhadap Plt. Disnakertrans, Sisilia Sona di Polda NTT oleh keluarga besar Alor di Kupang.

Baca juga : Cekal Mahasiswi Alor, Plt. Kadis Nakertrans NTT Dapat Kado Telur Busuk

Belum selesai proses pidana, Gubernur NTT, Josef Nae Soi mengeluarkan pernyataan yang dianggap kontoversi saat acara temu kasih Flobamora di Macao, Hongkong pada 27 Januari 2019. Di hadapan warga Flobamora, Josef menyatakan, Selfina Etidena bukan mahasiswa tetapi merupakan korban pemalsuan dokumen calo TKI ilegal.

Pernyataan Josef ini memicu reaksi keras mahasiswa asal Kabupaten Alor yang terhimpun dalam Aliansi Pemerhati Kemanusiaan. Mereka menggelar aksi demonstrasi di depan kantor gubernur NTT, Jumat (8/2/2019).

Mereka mendesak Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi segera memberi klarifikasi atas pernyataannya terkait status Selfina Etidena.

“Kami minta klarifikasi dari wakil gubernur NTT atas pernyataannya itu. Jika tidak kami akan melakukan aksi lagi dengan jumlah masa yang lebih besar,” ujar koordinator aksi,  Efi Famani saat berorasi.

Baca  juga : Cekal Mahasiswi Alor, Plt. Kadis Nakertrans NTT Dipolisikan

Mahasiswa juga mendesak Gubernur NTT, Viktor Laiskodat segera mencopot Sisilia Sona dari jabatannya karena dianggap gagal menjalankan tugas sebagai abdi negara.

“Kami jug meminta gubernur membebastugsakan tim Satgas yg terlibat dalam pencekalan Selfina. Pemerintah jangan cuci tangan,” katanya.

Sementara itu, mahasiswa asal Alor, Yohanis Lankari mengatakan, peristiwa pencekalan oleh Satgas TPPO Disnakertrans NTT, pada hakekatnya merupakan sebuah tindakan perampasan kemerdekan orang lain yang mengatasnamakan lembaga negara. Ia menilai, pencekalan terhadap Selvina merupakan bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

“Kita sudah laporkan sebagai upaya untuk mencari keadilan akan tetapi  laporan tersebut belum mendapatkan kepastian padahal jika kita lihat negara Republik Indonesia, menganut asas setiap warga Negara memiliki kedudukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan. Hukum ini dibuat untuk melindungi dan mengatur masyarakat secara umum dengan tanpa membedakan jenis kelamin suku, ras, agama,” tegasnya.

Berikut 3 tuntutan Aliansi Pemerhati Kemanusiaan :

1. Mendesak Kapolda NTT untuk segera memenuhi hasil audiens bersama kami melalui pernyataan Humas Polda NTT  tertanggal 25 Januari 2019.

2. Mendesak Kapolda NTT untuk Segera menetapkan status laporan Selfina M. Etidena dari tahapan penyelidikan menjadi penyidikan.

3. Jika tuntutan kami pada poin 1 dan 2 tidak terpenuhi dalam kurung waktu satu minggu terhitung dari tanggal hari ini, kami akan menggelar aksi masa yang lebih besar lagi. (OK/L6)

Komentar Anda?