Mengenang Satu Tahun Kematian Adelina Sau, TKI NTT yang Disiksa Majikan di Malaysia

Mengenang Satu Tahun Kematian Adelina Sau, TKI NTT yang Disiksa Majikan di Malaysia

317 Read

KUPANG– Untuk mengenang kematian TKI asal NTT, Adelina Sau, Sinode GMIT menggelar konferensi pers bersama antara Malaysia dan NTT, di Kantor Sinode GMIT, Selasa (12/2/2019).

Adelina Sau meninggal di Malaysia 11 Februari 2018 lalu. Adelina diketahui meninggal karena disiksa majikannya.

Baca juga : Akhir Pelarian Pelaku Deportase 87 TKI Ilegal Asal NTT

Ketua MS GMIT, Pendeta. Dr. Mery Kolimon mengatakan, Sinode GMIT dan Tenaganita, salah satu jaringan peduli anti perdagangan orang yang berkedudukan di Malaysia melakukan konferensi pers secara bersamaan di Malaysia dan Kupang.

Ia mengatakan, jumpa pers secara bersamaan itu dalam rangka menyikapi kasus kasus perdagangan orang illegal dan makin bertambahnya jumlah korban buruh migran Indonesia asal NTT yang meninggal dunia di Malaysia belakangan ini.

Yohana Banunaek, ibunda Almarhum Adelina Sau mengaku, tidak mengikuti perkembangan proses hukum majikan yang menjadi pelaku penganiayaan Adelina di Malaysia.

Yohana Banunaek menyampaikan hal ini dalam bahasa daerah Timor yang diterjemahkan oleh Ketua MS GMIT , Pdt. Dr. Mery Kolimon.

Yohana terlihat sedih dan tidak bisa menahan air matanya. Nampak Yohana beberapa kali mengusap air matanya dengan kedua tangannya.

Ia mengaku sangat merindukan anaknya. Namun, ia juga mengaku tidak tahu sama sekali soal proses hukum majikan yang telah membunuh putrinya.

Ia meminta negara bisa melindungi seluruh tenaga kerja NTT yang bekerja di Malaysia agar tidak terjadi lagi korban penyiksaan.

Proses Hukum Tidak Transparan

Pendeta Emy Sahertian yang juga aktivis Jaringan Anti Perdagangan Orang NTT mengatakan proses hukum terhadap Adelina Sau tidak transparan.

Menurut dia, TenagaNita sebagai jaringan anti perdagangan manusia di Malaysia juga sulit mengakses informasi soal proses hukum Adelina Sau.

“Informasi dari malaysia itu sangat minim karena itu penanganannya itu sangat reaktif, jadi ketika kami tau bahwa kasusnya ada di lapor ke polisi, baru mulai kami membuka jaringan ke Malaysia terutama dengan tenaganita, untuk pendampingan disana itupun baru dua, Adelina Sau dengan kasusnya Mriance Kabu, tapi itu juga baru mulai,” katanya.

Laporan dari serikat buruh migran indonesia di Malaysia mengatakan, sesuai hukum Malaysia, korban penyiksaan tidak mendapat perhatian khusus karena dianggap menganggu situasi dan kondisi hukum yang di Malaysia.

“Itulah kemudian saya ambil kesimpulan kenapa di pengadilan Malaysia kasus-kasus itu mengambang, karena mereka dianggap sebagai orang orang yang tidak terdokumentasi, bahkan lebih banyak dikriminalisasi,” katanya. (Ola Keda/L6)

Komentar Anda?