Dirugikan Miliaran Rupiah, Direktur PT. Rimba Mas Indah Gugat Bank NTT

0
173

KUPANG– Bank NTT yang merupakan bank kebanggaan daerah lagi-lagi disoroti kinerjanya. Selain kasus kehilangan uang nasabah yang misterius, kini Bank NTT digugat karena diduga melakukan perbuatan melawan hukum.

Kali ini korbannya adalah Boby Hartono Tantoyo, Direktur PT. Rimba Mas Indah. Pengusaha ini melalui kuasa hukumnya sudah resmi mendaftarkan gugatannya di Pengadilan Negeri Kelas IA Kupang, Kamis, 13/2/2019.

Baca juga : Lagi, Uang Nasabah Bank NTT Hilang Misterius

Kuasa hukum Boby, Lesly Anderson Lay, SH mengatakan, kliennya mengajukan gugatan karena Bank NTT telah secara sepihak melakukan pemblokiran terhadap rekening atas nama Boby Hartono selaku Direktur PT. Rimba Mas Indah.

Ia menjelaskan, kliennya mempunyai perjanjian pinjaman dengan Bank NTT Cabang Sabu Raijua yakni pinjaman atas nama PT. Mas Rimba Mas Indah untuk paket pekerjaan peningkatan jalan Bali-Bui tahun anggaran 2017. Perjanjian pinjaman itu dengan anggaran dana pekerjaan yang masuk ke rekening PT. Rimba Mas Indah sebesar Rp. 1.816.484.746 miliar.

Namun, pada 6 September 2018, rekening atas nama direktur PT. Rimba Mas Indah itu tidak dapat mencairkab dana lantaran diblokir Bank NTT secara sepihak.

“Klien saya mau cairkan dana sebesar Rp. 500 juta dengan cek bank nomor BP 1293774 melalui BRI cabang Kupang dengan nomor rekening 021.01.13.000275-1 atas nama Boby Hartono Tantoyo, tetapi tidak dapat dicairkan karena diblokir tanpa alasan jelas,” ujar Lesly kepada wartawan, Jumat (14/2/2019).

Baca juga : Kantor Bank NTT di Kampungnya Gubernur NTT Jadi Kandang Ternak

Ia mengatakan, tindakan Bank NTT itu bertentangan dengan peraturan Bank Indonesia Nomor 2/19/PBI/2000 pasal 12 ayat (1) dan ayat (2) tentang persyaratan dana dan tata cara pemberian perintah atau izin tertulis membuka rahasia bank, yang menentukan bahwa pemblokiran dan atau penyitaan simpanan atas nama seseorang nasabah penyimpan yang telah dinyatakan sebagai tersangka atau terdakwa oleh polisi, jaksa atau hakim dapat dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaki tanpa memerlukam izin dari pimpinan Bank Indonesia.

“Sesuai ketentuan tersebut, maka pemblokiran hanya dapat dilakukan apabila klien saya dinyatakan sebagai tersangka atau terdakwa oleh polisi, jaksa atau hakim,” katanya.

Perbuatan Melawan Hukum

Sementara itu, Tommy Michael Jacob, SH selaku anggota tim kuasa hukum mengatakan, tindakan pemblokiran yang dilakukan oleh Bank NTT merupakan perbuatan melawan hukum karena bertentangan dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 1/19/PBI/2000.

Tim kuasa hukum, Lesly Lay, SH, Tommy Jacob, SH dan Petrus Ufi, SH

Ia merincikan, akibat pemblokiran itu, klien mereka mengalami kerugian baik materiil maupun immateriil. Kerugian materiil berupa tidak bisa dicairkan dama sebesar Rp.500 juta serta tidak bisa digunakannya dana yang tersedia dalam rekening tersebut untuk pekerjaan kegiatan di Kabupaten Sabu.

Sementara kerugian immateriil berupa nama baik dari direktur PT Rimba Mas Indah dan perusahaa menjadi tercemar, kredibilitas perusahaan menjadi tidak baik dalam perbankan serta mengalami kerugian waktu, tenaga dan pikiran.

“Kerugian materiil sebesar Rp.1.816.484.746 miliar dan keruguan immateriil sebesar Rp.15 miliar. Karena kerugian ini maka Bank NTT wajib mengganti kerugian yang telah dialami,” tandas Tommy. (Ola Keda)