Bocah SD di Kupang Jadi Korban Sodomi, Pelakunya Siswa SMP

Bocah SD di Kupang Jadi Korban Sodomi, Pelakunya Siswa SMP

558 Read

KUPANG– Seorang siswa SMP di Kota Kupang, NTT tega menodai bocah laki-laki sekolah dasar. Korban terperdaya setelah diiming-iming makanan ringan.

Kasus sodomi ini dilakukan MIM (13), siswa salah satu SMP di Kota Kupang, warga Kelurahan, Nunleu Kecamatan Oebobo. Korbannya adalah FAN, bocah 8 tahun yang masih duduk di bangku kelas 2 SD.

Kejadian ini terjadi pada Selasa (18/12/2018) sekitar pukul 18.00 wita di rumah pelaku di Kelurahan Nunleu.

Baca juga : Jerit Kesakitan Bocah SD Ungkap Aksi Bejat Ayah Tiri di Kupang

Informasi yang dihimpun wartawan menyebutkan korban yang sedang bermain di depan rumah pelaku, diajak masuk ke kamar. Korban pun menuruti ajakan pelaku karena diimingi makanan ringan.

Setelah bujukannya berhasil, pelaku kemudian membawa bocah itu ke kamar untuk melakukan aksi bejatnya. Usai melampiaskan nafsunya, pelaku mengancam korban agar tidak boleh menceritakan perbuatannya kepada siapapun.

Kasus ini terungkap ketika ayah korban mencurigai saat melihat cairan sperma yang melekat di celana korban. Setelah ditanya, korban pun mengaku menjadi korban sodomi, MIM.

Menurut korban, pelaku sudah berulangkali menodainya. Korban tidak berani menceritakan kejadian yang dialaminya karena takut dengan pelaku.

Berdasarkan pengakuan korban, MIM akhirnya ditangkap polisi. Dalam pemeriksaan, MIM mengaku membujuk korban dengan makanan ringan. Setelah korbannya tergiur, pelaku lantas membawa korban ke kamarnya untuk disodomi.

Baca juga : Siswi SMA di Kupang Diperkosa Ayah Kandung Hingga Melahirkan

Kapolsek Oebobo, Kompol Ketut Saba mengaku sudah menangani kasus ini.

“Berkasnya sudah lengkap dan sudah dilimpahkan ke kejaksaan negeri Kupang pada Selasa, 12 Februari 2019 lalu,” ujar Ketut kepada wartawan, Kamis, (14/2/2019).

Ia mengatakan, pelaku tidak ditahan karena masih dibawah umur. Pelaku dikembalikan kepada orangtuanya.

“Sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang perlindungan anak, pelaku dibawah umur tidak bisa ditahan. Pelaku bisa ditahan kecuali sudah berumur 14 tahun,” katanya.

Ia menambahkan, saat penyerahan, pelaku didampingi orangtua dan pihak Balai Pemasyarakatan (Bapas). Pelaku dijerat pasal 81 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Udang Nomor 17 Tahun 2016 atas perubahan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak jo pasal 64 KUHP. (Ola Keda)

Komentar Anda?