Rekam Jejak Djolan Rinda : Dari Aktivis Mahasiswa Hingga Jurnalis Pejuang Hak Rakyat

Rekam Jejak Djolan Rinda : Dari Aktivis Mahasiswa Hingga Jurnalis Pejuang Hak Rakyat

324 Read

ENDE– Blasius Ausgarius Rinda, lahir disebuah kampung kecil sogoroga, desa Wawonato, Nangaba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende.

Pemuda pemberani ini mulai menyelesaikan pendidikan sekolah dasar Panamata, kemudian melanjutkan pendidkan menengah pertama di SMPK Maria Goreti Ende dan tamat pendidikan menengah pada SMA Muhammadyah Ende. Ia pun berhasil menyandang gelar sarjana setelah menyelesaikan pendidkan strata satu (S1) di kampus Uiversitas Flores Ende.

Pemuda yang akrab disapa Djolan ini sudah menunjukan insting keberpihakan sejak kanak-kanak. Kemampuan itu ditandai dengan sikapnya yang selalu siap membantu keluarga maupun orang yang tak ia kenal ketika membutuhkan bantuannya. Jejak konstruktifnya ini kemudian terus ia tanam hingga berstatus sebagai mahasiswa.

Di kampus, Ia tidak hanya memikirkan untuk mengejar Indeks prestasi semata, namun lebih dari itu ia memilih untuk belajar pada hal-hal lain yang dianggapnya mampu menambah wawasan untuk kehidupannya kelak. Ia selalu mencoba pada hal-hal baru, ini ditandai dengan kreativtasnya pada organisasi intra kampus.

Melihat kemampuannya dalam memanajemen sebuah organisasi, ia kemudian dipercayakan oleh rekan -rekan mahasiswa untuk menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) bahasa dan sastra indonesia (PBSI) pada periode 2010/2011. Tidak berhenti disitu, pengelaman organisasi intra kampusnya semakin meningkat dengan terpilihya dia sebagai Komisis Pemilu Raya Kampus (KPRK) pada Tahun 2011.

Di tahun yang sama setelah selesai sebagai ketua HMPS, ia kemudian ditunjuk sebagai ketua bidang di Badan eksekutif Mahasiswa Universitas Flores (BEM-UF) Bagian Gerakan Kemasyarakatan Periode 2011/2012. Penunjukan itu bukan tanpa alasan, ia dinilai sangat mampu dalam mengerakan masa untuk melakukan aksi menentang kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap keliru dan memojokan kepentingan masyarakat kecil.

Kemampuan orasi dalam setiap aksi dan gaya komunikasi yang diplomatif membuat pesan yang disampaikan dalam orasinya selalu dipertimbaangkan oleh pemerintah. Beberala masalah yang disuarakannya dialanan berkaitan dengan pemadaman listrik yang berkepanjangan, naiknya harga kebutuhan pokok, naiknya harga BBM, sampai pada persoalan akut kala itu yakni izin usaha pertambangan (IUP).

Disela-sela kesibukannya di kampus, Ia kemudian mencoba untuk membagi waktu dengan mengikuti salah satu organisasi ekstra kampus yakni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) cabang Ende santo Yohanes Don Bosco. Awal berproses di PMKRI pada tahun 2010, ia kemudian dinilai oleh atasan (seniornya) seorang pribadi yang prinsipil, berkarakter, pemberani, dan tidak takut kepada siapapun.

Tahun pertama ber-PMKRI, anak ketiga dari pasangan ayah Stefanus Ndate dan mama Magdalena Menge ini  selau tekun dalam berproses, mengikuti diskusi, setia mendengar apa yang menjadi pembicaraan seniornya, serta setia untuk mematuhi kultur (kebiasaan) yang berlaku di wadah itu. Proses demi proses ia lalui, hingga pada akhirnya ia juga diakomodir di jajaran badan pengurus yakni di presidium Gerakan Kemasyarakatan PMKRI cabang Ende pada periode 2011/2012.

Pada Masa kepengurusannya sebagai presidium Gerakan Kemasyarakatan, ia berhasil mengadvokasi belasan persoalan akut yang terjadi di kabupaten Ende. Hal ini sejalan dengan orientasi organisasi yang poros keberpihakan yang bermuara pada pembelaan hak masyarakat kecil.

Hal yang patut diapresiasi dari Gerakan PMKRI pada masanya sebagai Germas adalah berhentinya aktivitas pertambangan pasir besi di Nangaba, kecamatan Ende. Cucuran keringat dan kerja keras bersama rekannya memberikan andil besar bagi masyarakat kecamatan Ende dengan berhentinya aktivitas pertambangan di wilayah itu.

Jejak perjuangannya tidak berhenti dalam taraf organisasi, atas nama pribadinya dan melalui inisiatif dan keberaniannya dia kemudian merasa prihatin dengan kondisi jalan poros tengah Jurusan Nangaba-maukaro yang sangat tidak layak kendaraan beroperasi. Instingnya terus berkembang, sehingga pada tahun 2102 ia mengomentari kondisi jalan yang sangat memprihatinkan tersebut di surat kabar harian umum Flores Pos sebanyak 21 edisi dan juga berulang kali ia berkomentar di RRI Ende.

Masalah lain yang pernah ia tangani saat itu berkaitan dengan penyitaan minuman tradisiona jenis moke oleh pihak keamanan di pasar Nangaba kecamatan Ende. Dirinya berjiwa besar dengan mengantongi prinsp untuk terus berjuang melawan ketidakadilan, ia kemudia tampil sebagai solusi dalam pertentangan antara pihak keamanan dan masyarakat pedagang moke.

Berkaitan denga persoalan itu, ia kemudian membeberkan argumentasi yang sangat solutif, bahwa penyitaan atau pelarangan penjualan moke di pasar Nangaba itu tidak berbeda jauh denga mengintervensi hak dan kebebasan bagi anak-anak penyuling moke untuk mengenyam pendidkan. Karena menurut survei, pendapat serta keluhan para pembuat moke bahwa sebagian besar anak-anak mereka dibiayai dari uang hasil penjualan moke.

Tekun berproses di organisasi tidak membuatnya untuk melupakan perkuliahan. Ia selesai tepat waktu.
Setelah selesai masa studinya, ia kemudia memilih untuk berprofesi sebagai jurnalis di sala satu TV Nasional (TVRI) regio NTT. Bekerja sebagai wartawan tidak mengurungkan niatnya untuk membela masyarakat kecil. Maslah teknis seperti putusnya jalur jalan dan jembatan, serta longsor yang menghentikan arus lalu lintas jalan jurusan nangaba-maukaro selalu ia beritakan. Hal ini dilakukan untuk memberikan informasi terkini kepada pemerintah untuk segera menanggapi persoalan trrsebut.

Kini ia memilih terjun ke dunia politik praktis. Ia merupakan pertisipan dalam pemilu kali ini, dengan mencalonkan diri sebagai calon legislatif atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ende (DPRD) Dapil II (kecamatan Ende Nengapanda, Maukaro, dan Pulau Ende) dari no 14 partai Demokrat) nomor urut  1. Baginya apapun kosekwensinya, tentu sudah menjadi tanggungannya. Saat ini ia sedang berjuang untuk memberikan pemahaman dan memberikan pendidikan politik kepada masyarakt untuk berjalan pada rel perpolitikan yang Benar.

Komitmen dan prinsipnya tetap bermuara pada konsep besar bahwa menjadi wakil rakyat itu ada nomenklatur tentang tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dari DPRD iti sendiri. Diluar daripada itu adalah kebohongan terhadap masyarakat.

Dalam setiap kesempatan saat bertemu masyarakat baik itu dalam acara resmi ataupun tidak resmi dirinya selalu menjelaskan tupoksi DPRD yang sebenarnya. DPRD mempunyai tugas dan wewenang: Pertama, Membentuk Peraturan Daerah bersama-sama Bupati.
Kedua, Membahas dan memberikan persetujuan rancangan Peraturan Daerah mengenai Anggaran Pendapatan Belanja Daerah yang diajukan oleh Bupati.
Ketiga, Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Daerah dan APBD.

Karena itu, dalam kontestasi pemilu 2019 ini, coba kita refleksikan dan telusuri rekam jejak masing-masing caleg yang bertarunng sebagai kontestan. Suara kita menentukan 5 tahun perjalanan dan masa depan daera ende ini lima tahun kedepan. Jangan salah gunakan hak suara anda.

Kiranya deskripsi singkat dari rekam jejak saudara Djolan Rinda ini menjadi referensi bagi kita untuk menjatuhkan pilihan kita pada 17 april mendatang.
(Firmus Rigo)

Komentar Anda?