Kontroversi Legalisasi Miras oleh Gubernur NTT

0
55

KUPANG– Pemerintah Nusa Tenggara Timur (NTT) segera meluncurkan minuman keras (Miras) khas daerah itu yang diberi nama Sophia (Sopi asli). Sophia ini diharapkan akan menyaingi cap tikus dari Manado.

Untuk meluncurkan miras sophia ini, pemerintah membangun kerjasama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang untuk melakukan penelitian dan pengkajian terkait minuman yang akan diluncurkan itu.

“Kami sudah lakukan kajian dan penelitian terkait dengan miras Sophia yang akan diluncurkan nanti,” kata Rektor Undana, Fred Benu.

Baca juga : Polisi Musnahkan 5 Ribu Liter Miras Lokal

Sementara Gubenur NTT, Viktor Laiskodat mengatakan minuman Sophia yang dihasilkan dari pohon aren dan enau yang selama ini sudah di jual masyarakat atau usaha kecil mikro menengah (UMKM) yang akan diambil untuk diolah lagi menjadi sophia.

“Minuman seperti moke, sopi dan arak yang di jual masyarakat akan di beli pemerintah dan diolah lagi menjadi sophia,” kata Viktor.

Menurut dia, kadar alkohol minuman sophia ini sekitar 45 persen, dan pada tahap pertama akan diproduksi sebanyak 12 ribu botol. Miras sophia ini dijadwalkan diluncurkan pada Juni 2019. “Dua bulan kedepan akan diluncurkan untuk di jual ke masyarakat,” katanya.

Saat ini, lanjut dia, telah dikembangkan tiga jenis minuman sophia, dan dua jenis sudah siap untuk produksi, sedangkan satu jenisnya masih dalam pengembangan agar bisa setera dengan dua jenis lainnya. “Saya sudah rasa. Enak rasanya dan beda dengan sake atau cap tikus,” kata Viktor.

Dia mengatakan, NTT harus sudah memulai mengembangkan industri, dan tahap awal ini akan dikembangkan miras sophia. “Massa NTT kalah dengan cap tikus asal Manado,” tegasnya.

Secara regulasi, lanjut dia, pihaknya sedang menyusun aturannya dan akan segera ditandatangani dalam waktu dekat ini.

Miras sophia ini akan diproduksi di bidang industri Badan Layanan Umum (BLU) Undana dan disributornya dipercayakan kepada Toko Nam NTT.

Revolusi Mental

Keputusan ini menuai ragam komentar, salah satunya dari anggota DPRD NTT, Anwar Hajral. Politisi asal PKS ini justru menanyakan kegunaan miras terhadap generasi muda.

Selain itu, Anwar Hajral juga mengaitkan keputusan ini dengan slogan besar yang dibawakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yakni revolusi mental.

“Apa pentingnya miras untuk generasi muda? Kita coba lihat program Pak Jokowi tentang revolusi mental. Miras kalau dibiarkan terus menerus akhirnya membuat generasi muda mabuk-mabukan. Bagaimana kita mau revolusi mental,” katanya.

Baca juga : TN Komodo Darurat Pengawasan, Gubernur NTT Desak Menteri LHK Segera Alihkan Wewenang

Anwar menyarankan pemerintah agar mengkaji kembali keputusan ini.

“Lakalantas juga tinggi kalau kita kaitkan dengan miras. Hanya mungkin gubernur dan pemerintah berpikir dari sisi pendapatan daerah. Tapi perlu juga dipikirkan soal dampak negatif dari miras, soal kehidupan sosial kemasyarakatan dan generasi muda. Ini perlu dikaji kembali,” ucapnya.

Di sisi lain, kata dia, belum ada pembahasan di DPRD NTT mengenai keputusan ini.

“Belum pernah dibahas di dewan soal miras. Mungkin ini masih diputuskan soal label miras, jadi penganggarannya mungkin dibahas di Perubahan 2019 di bulan Oktober,” jelasnya. (Dian/Liputan6)