Dugaan Politik Uang di Lembata, Caleg Partai Garuda Diperiksa Panwascam

Dugaan Politik Uang di Lembata, Caleg Partai Garuda Diperiksa Panwascam

139 Read

LEMBATA– Tahapan Pemilu Serentak yang akan digelar 17 April 2019 memasuki masa tenang. Semua calon Legislatif dan partai politik pemilu dihimbau untuk tidak melakukan kampanye, menurunkan alat peraga kampanye, menjaga ketertiban dan ketenangan, menjaga situasi dan kondisi agar pemilu serentak dapat berjalan dengan lancar dan sukses.

Sayangnya, menjelang hari pemungutan suara, terjadi tindakan yang diduga money politik atau politik uang di daerah pemilihan II Kabupaten Lembata, Nusa Tengara Timur. Unit reaksi cepat Bawaslu Lembata bersama Gakumdu pun bergerak cepat melakukan investigasi.

Baca juga : Cegah Politik Uang di Pilkada 2018, Bawaslu Revisi Aturan 

Dugaan money politik ini dilakukan oleh oknum yang diduga menjadi tim sukses salah satu Caleg kepada seorang masayarakat bernama Mikhael Dewa, warga dusun RT 13, Dusun IV, Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape.

Mikel Dewa mengaku menerima uang dari tim sukses berinisial DDS. DDS merupakan tim sukses Caleg Partai Garuda, berinisial ID. Ia menceritakan, ia didatangi DDS di rumahnya dengan modus membeli bambu.

“Awalnya dia mau beli bambu. Saya dikasih saya uang Rp.5000. Setelah itu, dia kasih saya surat suara, dengan uang pecahan 50.000 dua lembar,” ujar Mikhael kepada wartawan, Senin (15/4/2019).

Saat memberi uang, DDS berpesan agar tidak boleh menceritakan kepada orang lain. Mesti menolak saat diberi uang tetapi, ia tetap dipaksa.

“Jangan cerita kepada orang lain, diam-diam saja. Tusuk ID, biar bisa bagi suara,” ungkap Mikhael Dewa menirukan pesan DDS.Setelah menerima uang dan kertas suara tersebut, ia langsung membuat aduan atau laporan dugaan money politik dari Caleg Partai Garuda nomor urut 1 ini, kepada Panitia Pengawas Kecamatan Ile Ape.

Aduan atau laporan ini disampaikan bersama barang bukti berupa satu lembar spesimen surat suara yang didalamnya tertera nama ID Caleg Nomor 1 Partai Garuda, dan dua lembar uang pecahan Rp.50.000. Laporan itu diterima oleh Ketua Panwascam Ile Ape, Kanisius Ukeng.

Investigasi

Komisioner Bawaslu Kabupaten Lembata, Lambertus Kolin membenarkan ada laporan dugaan money politik ke Panwascam Ile Ape.

“Kami bergerak cepat setelah mendapat infomasi. Kami sudah mendapat keterangan dari Panwas serta barang bukti. Terlapor dan pelaku juga sudah ada nama. Kita akan lakukan Investigasi lebih lanjut,” ujar Lamber.

Baca juga : Airlangga Hartato Target 85 Persen Kemenangan Jokowi-Amin di NTT

Jika terbukti maka yang dijerat adalah pelaku atau yang memberi uang. Sementara penerima uang tidak dikenakan hukuman pidana.

“Kalau saat pilkada pemberi dan penerima dikenakan sanksi hukuman penjara. Tetapi untuk pileg hanya pelaku atau pemberi uang saja,” ungkapnya.

Ia menghimbau agar pada masa tenang semua pihak bisa menjaga kondisi dan situasi agar pemilu serentak dapat berjalan dengan sukses dan bermartabat.

Sementara, informasi terbaru yang dihimpun media ini, DDS sebagai pelaku dugaan money politik sudah dipanggil oleh Panwascam Ile Ape. Kepada Panwascam, DDS mengakui perbuatannya. Hingga berita ini ditulis, Unit reaksi cepat Bawaslu Lembata bersama Tim Gakumdu Lembata masih melakukan investigasi.

Untuk diketahui, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur dalam pemilu serentak dibagi menjadi empat daerah pemilihan (Dapil). Wilayah yang masuk dalam Dapil II adalah Ile Ape, Ile Ape Timur dan Lebatukan yang diikuti oleh 14 Partai Politik dengan jumlah Caleg sebanyak 70 orang merebut 5 kursi DPRD Lembata. (OK/Dian)

Komentar Anda?