Ritual Unik Dabba Ae di Sabu Raijua, Sabung Ayam untuk Perdamaian

0
0

KUPANG- Masyarakat Pulau Raijua, Kecamatan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, NTT, merayakan pesta adat Dabba Ae pada, Minggu 7 April 2019.

Ritual Adat Dabba Ae Raijua memiliki sejarah tersendiri bagi orang Raijua yaitu ritual perdamaian. Menurut kepercayaan masyarakat setempat,  di zaman dahulu di pulau Raijua sering terjadi perang atau pertikaian hingga jatuhnya korban jiwa. Untuk menghentikan pertikaian, seluruh Mone Ama (tua adat) bersepakat untuk melakukan musyawarah mufakat mecari solusi perdamaian. Disepakatilah, perang manusia tersebut digantikan dengan sabung ayam adat atau Dabba Ae atau Piu Manu.

“Ritual in muncul ketika orang Raijua memahami bahwa kita tidak boleh berperang dan akhirnya diganti dengan sabung ayam,” tutur Pau Dea yang dinobatkan sebagai Deo Rai Pau Dea (Tuhan Dunia) kepada wartawan, Jumat, 19 April 2019.

Baca juga : Pagi Indah di Watu Krus, Wisata Peninggalan Portugis 

Ia mengatakan ritual itu merupakan acara adat sakral yang dilakukan setiap tahun sekali di wilayah adat Raijua berdasarkan kelender adat yang jatuh pada Warru Dabba atau dalam kelender masehi sekitar bulan April.

Ritual sabung ayam adat itu diikuti sekitar 38 kelompok adat atau Ada Manu yang pembentukannya dari kelompok Udu dan Kerogo yang ada di Pulau Raijua.

Ritual ini diawali dengan pemukulan gong dan tambur oleh kelompk adat Ada Manu dan dilanjutkan dengan tahapan ritual peharo atau pelepasan ayam pertama.

Resolusi Konflik

Salah satu peserta ritual dari Ada Manu Nadaibu, Melkianus Huke Lomi mengatakan, ritual Dabba Ae menjadi bukti bahwa persaudaraan dan kebersaman itu akan menciptakan perdamaian. Ia berharap agar generasi-generasi yang akan datang tetap melestarikan budaya ini.

Terpisah, Jefrison Hariyanto Fernando sebagai salah satu pegiat budaya Sabu Raijua mengatakan, ritual Dabba Ae merupakan bentuk dari resolusi konflik yang telah dilakukan oleh orang Sabu Raijua pada ribuan tahun silam.

BACA JUGA:   Prioritaskan Konservasi, Wisatawan Pulau Komodo Dibatasi   

Baca juga : Menanti Harumnya Potensi Pariwisata NTT di Tangan Duta Wisata

Berbicara tentang HAM, maka sejak ribuan tahun lalu, orang Sabu Raijua sudah punya rasa peduli dan menjunjung tinggi terhadap HAM khususnya hak hidup seseorang.

“Ini harus tetap dijaga dan dilestarikan. Karena ini kebanggaan orang Sabu Raijua, yang mana orang Sabu Raijua sudah memahami HAM walaupun nenek moyang kita waktu itu belum sekolah,” katanya.

“Ritual ini menjadi awal orang Sabu Raijua mendeklarasikan dirinya sebagai salah satu suku di dunia yang peduli terhadap hak hidup sesamanya dan peduli perdamaian” pungkasnya. (OK/L6/Dian)