Prosesi Sakral Logu Senhor di Gereja Tua Sikka 

0
0

SIKKA- Jika Kota Larantuka, Flores Timur dikenal dengan pekan suci Semana Santa, di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT ribuan umat katolik menggelar prosesi Jumat Agung menyambut Paskah yang dikenal dengan Logu Senhor di Gereja Santo Ignatius Loyola, Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Jumat (19/4/2019).

Prosesi Logu Senhor merupakan tradisi religi yang telah berjalan sejak abad 16 di Gereja Santo Ignatius Loyola, Kampung Sikka, Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka.

Logu Senhor berarti berjalan di bawah usungan Salib Senhor sambil membawa lilin yang bernyala di tangan. Ribuan umat berjalan khusuk memanjatkan doa dan permohonan mengenang penderitaan hingga wafatnya Yesus Kristus.

Sejarah Prosesi Logu Senhor

Pada akhir abad ke XV sampai awal abad ke XVI wilayah Sikka dipimpin seorag tokoh yang bernama Moang Baga Ngang. Beliau mempunyai tiga orang putra yaitu Moang Lesu, Moang Korung dan Moang Keu.

Baca juga : Gema Toleransi di Pekan Suci Semana Santa Flores Timur

Dari ketiga orang putra tersebut Moang Lesu lebih menonjol dalam hal wawasan. Ia lebih memahami kehidupan masyarakat di wilayah Sikka mulai dari kelahiran, kehidupan, penderitaan sampai dengan kematian, seperti yang diungkapkan dalam syair bahasa Sikka,

“Niang ei Beta Mate Tanah ei Herong Potat Mate Due Rate Rua Potat Due Leda Telu. “Blutuk Niu Nurak di mate Blupur Odo Korak di potat Teri di mate era di potat”

Ia kemudian memikirkan dan mencari tempat di dunia ini yang tidak ada penderitaan dan kematian. Maka Moang Lesu lalu mengembara mencari tanah tersebut yang dalam bahasa Sikka berarti “Tanah Moret”.

Ia mengembara keluar dari kampung Sikka menuju wilayah utara dan tiba di wilayah Maumere tepatnya di pelabuhan Waidoko yang pada saat itu merupakan tempat persinggahan atau berlabuhan kapal- kapal dagang dari Bugis, Buton, Makasar, Bonerate dan juga kapal dagang Portugis dari tanah Malaka.

Di sana, ia bertemu dengan salah seorang anak buah kapal dagang Portugis yang bernama, Dzogo Worilla.

BACA JUGA:   Prioritaskan Konservasi, Wisatawan Pulau Komodo Dibatasi   

Moang Lesu lalu bertanya apakah di tanah mereka tidak ada kematian, namun jawaban dari Dzogo Worilla bahwa di dunia ini manusia yang lahir, hidup dan akan berakhir dengan kematian.

Tetapi untuk mendapatkan jawaban yang lebih pasti akan “Tanah Moret” tersebut, ia kemudian diajak untuk bersama-sama berlayar menuju ke tanah Malaka, karena di sana ia dijanjikan akan memperoleh penjelasan yang lebih pasti. Keinginan yang kuat untuk mencari “Tanah Moret”, Moang Lesu pun akhirnya berlayar bersama-sama menuju tanah Malaka.

Baca juga : Ritual Unik Dabba Ae di Sabu Raijua, Sabung Ayam untuk Perdamaian

Setibanya di sana Moang Lesu dipertemukan dengan Gubernur Tanah Malaka yang bernama Worilla dan beliau menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya yaitu mencari “Tanah Moret”.

Jawaban yang diperoleh ialah bahwa hanya ada kehidupan yang bahagia dan kekal setelah kematian di dunia ini, maka Moang Lesu harus mengikuti persyaratan-persyaratan yakni, membangun gereja dan mengikuti semua ajaran-ajaran gereja dan membangun irmida atau stasion perarakan.

Moang Lesu menyetujui persyaratan-persyaratan yang disampaikan dan slap untuk melaksanakannya. Selanjutnya beliau pun mengikuti pelajaran agarna Katolik, pelajaran ilmu politik dan pemerintahan selama kurang lebih 3 tahun.

Setelah itu beliau dibaptis dengan nama Don Alexius Ximenes da Silva dan dilantik menjadi raja Sikka oleh Gubernur Tana Malaka Worilla.

Salib Senhor

Ketika akan kembali ke Sikka, Moang Lesu menghadiakan kepada Gubernur Malaka sejumlah emas dan harum-haruman yang dalam Bahasa Sikka disebut “Ambar Menik” (muntahan ikan paus). Sebaliknya Gubernur Malaka memberikan hadiah kepada Moang Lesu berupa, salib senhor, patung meninung (patung kanak-kanak Yesus sebagai Raja), Tugur Griang (panji yang bergambar orang kudus ujung bawahnya terbelah dua), Regalia kerajaan dan sejumlah besar hatang gading berukuran besar dan sedang.

Diperkirakan pada tahun 1608, Moang Lesu kembali dari tanah Malaka didampingi seorang guru agama yang berkebangsaan Portugis bernama, Agustinho Rossario Da Gama yang bergelar Moang Morenho.

BACA JUGA:   Prioritaskan Konservasi, Wisatawan Pulau Komodo Dibatasi   

Setibanya di kampung Sikka, Moang Agustin Rosario Da Gama menyelenggarakan upacara pengukuhan kembali Moang Lesu menjadi Raja Sikka.

Ia mulai mengajar iman katolik kepada keluarga raja serta semua warga masyarakat Sikka, sekaligus memimpin upacara upacara liturgi gereja termasuk upacara Liturgi prosesi Logu Senhor pada hari raya Jumat Agung yang dalam bahasa Sikka disebut “Sexta Fera”.

Logu Senhor berarti berjalan di bawah usungan Salib Senhor sambil membawa lilin yang bernyala di tangan seraya berdoa dalam hati sambil memanjatkan intensi atau permohonanan kepada Tuhan Yesus yang menderita dan wafat.

Salib Senhor merupakan suatu rahmat dan kekuatan dari Allah yang dapat menyembuhkan orang dari segala jenis penyakit yang sulit disembuhkan secara medis, seperti yang belum dikarunia keturunan bahkan juga membebaskan orang dari penderitaan apapun.

Para peserta prosesi Logu Senhor memberikan kesaksian iman bahwa dengan mengikuti upacara ini, Tuhan mengabulkan doa dan permohonan mereka.

Logu Senhor mengungkapkan pentingnya nilai Religius dalam kehidupan orang Sikka dan sekaligus menyadarkan orang akan kerapuhan hidup, yang hanya mendapatkan kekuatanya dalam kehidupan agama. Devosi ini juga berguna dalam melestarikan nilai-nilai agama katolik.

Sejak saat itu upacara Logu Senhor rutin dilaksanakan pada setiap hari raya Jumad Agung dibawah pimpinan Moang Agusthinho Rosario Da Gama.

Setelah kematian Moang Gama, upacara ini dipimpin oleh putranya yang benama Thomas Didimus Da Gama. Namun setelah beberapa tahun kemudian beliau pindah dari kampung Sikka dan berdiam di Maumere tepatnya di Waidoko. Meski demikian upacara Logu Senhor tetap diselenggarakan setiap tahun.

Pada pertengahan tahun i800 datanglah Moang Nyong Bari Ende (Kampung Numba) yang beriman jatolik pemimpin suku Darabogar dan tinggal di Wisung Darapung.

Ia dipercayakan oleh Raja untuk memimpin acara jumad agung dan Logu Senhor dengan gelar Moang Mestry (Liturgi). Prosesi Logu Senhor ini sempat ditiadakan oleh para Imam Jesuit yang menjadi pastor di Paroki Sikka, tetapi selanjutnya dengan adanya kesepakatan dari umat dan disetujui oleh pastor paroki maka Devosi Logu Senhor ini kembali dilaksanakan pada setiap hari raya Jumad Agung (Sexta Fera).

BACA JUGA:   Prioritaskan Konservasi, Wisatawan Pulau Komodo Dibatasi   

Kesaksian Iman

Pantauan media ini, ribuan umat katolik sejak Jumat 19 April 2019, sekitar pukul 15.00 WITA sudah berdatangan di kampung Sikka untuk mengikuti ibadah Jumat Agung dan Prosesi Logu Senhor.

Umat katolik terlihat memenuhi gereja Tua Sikka maupun di halaman gereja dengan berbusana khas warna hitam sebagaumi tanda perkabungan.

Upacara ibadat dan prosesi Logu Senhor dipimpin Uskup Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Pr didampingi Romo Vikjen dan Pastor Paroki Santo Ignatius Loyola Sikka.

Dalam kotbahnya, Uskup Maumere menekankan tiga hal yaitu kelakuan iman, panggilan untuk menghormati keutuhan ciptaan dan jalan salib sebagai jalan keselamatan.

Usai ibadat dilanjutkan dengan acara kecup salib Yesus di dalam dan di halaman gereja. Usai mencium salib, dilanjutkan dengan upacara prosesi Logu Senhor yang dimulai dari dalam gereja dan dilanjutkan prosesi keliling kampung Sikka.

Ketua panitia, Logu Senhor 2019, Firminus Marianus menjelaskan pada pelaksanaan prosesi tahun 2019, panitia menyiapkan 3 irmida (tempat perhentian) sebagai tempat melakonkan kisah sengsara Yesus.

Dikatakan Firminus, pada prosesi tahun ini umat Katolik yang hadir diperkirakan 2000 umat yang berasal dari berbagai paroki di wilayah keuskupan Maumere dan para peziarah dari luar keuskupan Maumere.

Ia mengatakan, Salib Senhor merupakan suatu rahmat dan kekuatan dari Allah yang dapat menyembuhkan orang dari segala jenis penyakit yang sulit disembuhkan secara medis bahkan diyakini membebaskan orang dari penderitaan apapun.

“Peserta prosesi Logu Senhor memberikan kesaksian iman bahwa dengan mengikuti upacara ini, Tuhan mengabulkan doa dan permohonan mereka,” ujar Firminus.

Ia menambahkan, Logu senhor mengungkapkan pentingnya nilai religius dalam kehidupan orang Sikka dan sekaligus menyadarkan orang akan kerapuhan manusiawi, yang hanya mendapatkan kekuatannya dalam iman kepada Kristus Tersalib. (JDgz/Dian)