Aksi Konyol Camat Alor Tengah Utara Picu Batalnya Pleno Rekapitulasi Suara

0
3

KALABAHI – Ulah tak terpuji dilakukan Camat Alor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), Simon Atalo. Ia diduga menjadi biang atas batalnya pleno rekapitulasi pemungutan suara di tingkat kecamatan pada pemilihan umum 2019.

Ulah camat yang menjemput paksa kotak suara ini berujung pengunduran diri ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Nehemia Matingmau.

Baca juga : Aksi Penutupan Pasar oleh Caleg Gagal di Flores Timur

Ketua PPK kecamatan Alor Tengah Utara, Nehemia Matingmau mengatakan, pengunduran dirinya sebagai ketua PPK karena ia menolak aksi camat Alor Tengah Utara mengambil alih fungsi petugas PPK.

“Menjemput kotak suara itu kewenangan mutlak PPK yang tidak bisa diintervensi pemerintah,” tegas Nehemia kepada wartawan belum lama ini.

Ia menyesalkan sikap Camat yang menggunakan mobil dinas untuk mengangkut kotak suara. Kekecewaanya itu karena istri camat juga merupakan calon anggota legislatif (Caleg). Penjemputan paksa kotak suata oleh camat itu, kata dia, menimbulkan banyak kecurigaan dan menyalahi aturan pelanggaran pemilu.

“Aturannya dari mana? Urusan pemilihan umum itu bukan urusan camat. Itu urusan panitia penyelengara pemilu. Kita tunda gelar pleno,” ujarnya.

“Kami menduga ada yang tidak beres dengan aksi pak camat ini. Istrinya Caleg, dia yang menjemput kotak suara. Ini ada apa? saya sudah melarang sebelumnya, tapi dia (camat) tetap ngotot,” tambahnya.

Ia mengatakan, sejak kejadian itu, ia mengundurkan diri sebagai ketua PKK dan memberikan mendat kepada anggotanya untuk melakukan pleno di tingkat kecamatan.

Ia menduga aksi camat itu sengaja dilakukan untuk kepentingan politik istrinya.

“Jika dalam kondisi genting, saya yang berkoordinasi dengan polisi atau TNI. Kenapa tanpa arahan saya, camat seolah mengambil fungsi saya,” tandasnya.

Baca juga : 5 Petugas KPPS di NTT Meninggal Dunia karena Kelelahan

Sementara itu, Camat Alor Tengah Utara Simon Atalo mengaku menjemput kotak suara menggunakan mobil dinas. Ia bahkan geram ketika wartawan bertanya alasan ia mendahului petugas PPK.

“Tidak ada aturan yang melarang. Yang saya lakukan itu benar, tanpa ketua PPK pleno tetap digelar,” katanya dengan nada kasar. (Dian/L6)