Peringati May Day, Mahasiswa Kupang Tuntut Kurangi Jam Kerja Buruh

0
0

KUPANG– Puluhan mahasiswa di Kota Kupang, NTT yang tergabung dalam Komite 1 Mei untuk Kemerdekaan, Kesetaraan, Keadilan dan Kesejahteraan (KOMITMEN) menggelar aksi demonstrasi, Rabu (1/5/2019).

Aksi massa ini dilakukan sekitar pukul 09.00 Wita. Massa melakukan long march dari depan Universitas Widya Mandira (Unwira) Jln Ahmad Yani Kupang hingga di depan Universitas Nusa Cendana (Undana) lama di Jln Soeharto Kelurahan Naikoten I, Kota Kupang.

Beberapa organisasi yang tergabung dalam aksi ini diantaranya Pusat Perjuangan Mahasiswa Untuk Pembebasan Nasional (Pembebasan) Kupang, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Kupang, Gerakan Mahasiswa Reinhat (GMR) dan Federasi Serikat Buruh Demokratik (F Sedar).

Baca juga : Kisah Ironis di Hari Buruh, 16 TKI Ilegal Asal TTU NTT Diamankan Satgas Anti Trafficking

Koordinator aksi, Oceph Kellen dalam orasinya mengajak seluruh rakyat Indonesia yang tertindas dan elemen-elemen perlawanannya untuk bersama membangun kekuatan politik alternatif sebagai alat penyatuan kekuatan perubahan bangsa dan tatanan masyarakat menjadi lebih demokratis, adil, setara, sejahtera dalam kondisi lingkungan hidup yang bersih dan sehat.

Menurutnya, kekuatan alternatif tak mungkin tercapai bila semua rakyat tidak sungguh-sungguh berdedikasi, berkomitmen, berkemandirian membangun kekuatan politik alternatif, apalagi, lanjut Oceph, menggantungkan harapan pada elite satu dan lainnya.

“Perubahan hanya mungkin pada persatuan kekuatan rakyat yang berani, mandiri dan berkesadaran melawan oligarki, merebut demokrasi sejati. Kita terus berjuang untuk penghidupan yang layak sebagai manusia yang bermartabat,” katanya.

Baca juga : Derita Buruh Kebun Tebu Sumba yang Kakinya Digilas Mobil Hingga Diterlantarkan Perusahaan

Selain nasib buruh, dalam aksi ini mahasiswa juga menuntut menuntut agar negara menghormati hak berpendapat Rakyat Papua.

Berikut beberapa tuntutan mahasiswa : 

1. Kurangi jam kerja 6 jam/hari, Stop Union Busting, Naikkan upah 100 persen, Hapuskan sistem kerja kontrak, outsourcing dan magang, Cabut PP 78/2015: Anti perundingan upah, Cuti haid tanpa syarat, Cuti hamil dan melahirkan selama 14 bulan, Majukan K3 (Keselamatan dan Kecelakaan Kerja) dan laksanakan Konvensi Buruh Migran.

2. Tolak intoleransi dalam beragama, Hentikan diskriminasi dan stigma pada LGBT, Hapuskan status kawasan industri sebagai obyek vital nasional, Kesehatan Gratis bagi Semua, dan Stop diskriminasi dan stigma terhadap buruh dan masyarakat bertato

3. Hentikan Perampasan Tanah, Tolak Reklamasi, Wujudkan Reforma Agraria Sejati, Moratorium Izin dan Stop Ekspansi Pertambangan, Tutup Freeport, Segera Beralih ke Energi Bersih Terbarukan, Cabut ljin Usaha Perkebunan dan Tutup PT KSO serta kembalikan 2000 Hektar tanah petani Galela (Halmahera Utara) tanpa syarat.

4. Hapus Pidana Pencemaran Nama Baik, Cabut delik Penistaan Agama, Cabut UU Ormas, Stop Hukuman Mati, Tolak RKUHP Ngawur, Usut dan tuntaskan Kejahatan Serius masa lalu.

5. Hapus impunitas, adili Jenderal Pelangar HAM, Hapus Delik Makar, Hentikan Kriminalisasi Aktivis, Ganti UU Pemilu dan Parpol.

6. TNI stop urus ranah sipil, Bubarkan struktur komando teritorial, Tarik TNI/Polri Organik dan Non-Organik dari Papua, Buka akses jurnalis internasional ke Papua, Cabut program Bela Negara di Kampus. (Dian/L6)