Kasus Penganiayaan di THM Kupang, Laporan Korban Mandek di Tangan Polisi

0
69

KUPANG– Alfin Sandik (30) warga Jalan Kamboja, RT 006 RW 002, Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, NTT menjadi korban penganiayaan di salah satu Tempat Hiburan Malam (THM) di Kota Kupang, Minggu, 5 Mei 2019, sekitar pukul 12.3 0 wita.

Alvin dianiaya saat bersama seorang temannya hendak masuk ke THM. Selain Alvin, temannya bernama Frid Pulanga juga ikut dianiaya sekelompok pemuda. Akibat pemukulan itu, Alvin mengalami luka serius di bagian kepala.

“Belum sempat masuk, kami dikeroyok saat hendak masuk ke dalam THM,” ujar Alvin kepada wartawan, Rabu (29/5/2019).

Baca juga : Terlibat Penganiayaan, Mahasiswa Undana Kupang Diciduk Polisi

Ia menuturkan, saat tiba di lokasi, pria bernama Ari yang diduga menjadi pelaku, tiba-tiba menyerangnya menggunakan pisau dan mengenai kepalanya hingga ia sekarat.

“Saya kaget tiba-tiba kami diserang. Teman saya juga dianiaya karena mau melerai,” katanya.

Ia mengaku kecewa karena petugas keamanan di THM tidak mampu menjaga keamanan pengunjung. Ia juga mengaku jika di THM tersebut sering terjadi keributan antara pengunjung.

“Saya tidak punya masalah sebelumnya dengan para pelaku,” tandasnya.

Setelah dianiaya, kata dia, ia bersama keluarga langsung membuat laporan di Polsek Kelapa Lima. Polisi pun langsung membawanya ke RSUD S.K Lerik Kota Kupang untuk divisum. Usai divisum, ia kemudian dibawa ke Polsek untuk dimintai keterangan.

“Sudah divisum dan mintai keterangan tetapi tidak diberi Surat Tanda Laporan Polisi (STLP). Kata polisi malam itu, nanti akan dihubungi,” imbuhnya.

Rupanya, hingga kini laporan korban penganiayaan berat ini mandek dan tak ada kejelasan. Salah satu anggota Polsek Kelapa Lima berjanji akan menghubunginya pun hingga kini tak ada kabar berita.

“Saya kecewa karena sampai sekarang kasus yang saya laporkan tidak ada kejelasan,” katanya

Kuasa hukum korban, Lesly Anderson Lay, SH mengatakan, polisi harus segera mengungkap kasus ini, karena telah terjadi tindak pidana yang menyebabkan korban mengalami luka berat.

Baca juga : Polisi Tetapkan 3 Tersangka Kasus Penganiayaan Keluarga Pasien di TTS

Menurut Lesly, meskipun pelakunya belum diketahui jelas identitasnya, namun itu sudah menjadi kewajiban polisi untuk mengungkap kasus itu.

“Ini sudah ada korban, artinya sudah ada tindak pidana. Polisi tidak boleh beralasan bahwa pelaku tidak kenal. Harus ada penyelidikan lanjutan karena ini soal tindak pidana,” tegas Lesly.

Foto : Luka di bagian kepala korban akibat penganiayaan

Ia mengatakan, yang namanya tindak pidana tidak boleh dibiarkan karena akan menjadi preseden buruk penegakan hukum di NTT.

“Ada korban dan ada juga saksi. Bila perlu panggil dan periksa pihak manajemen THM. Karena mereka juga harus bertanggungjawab. Pengusaha jangan hanya cari untung, tetapi keamanan pengunjung juga harus dijamin,” katanya.

Ia meminta agar penyidik Polsek Kelapa Lima segera memberi kepastian hukum bagi korban.

“Yang namanya korban kalau sudah melapor, wajib hukumnya polisi mengeluarkan STLP dan selanjutnya SP2HP. Bukan dibiarkan begitu saja,” tandasnya.

Sementara itu, Kapolsek Kelapa Lima, AKP Didik Kurnianto berjanji akan menindaklanjuti laporan itu.

“Memang ada keterlambatan karena ada penganan Pilpres dan operasi ketupat tetapi akan tetap ditindak lanjuti,” ujar Didik. (DIAN/L6)