Derita Bocah Kupang Berjuang Lawan Luka di Tubuhnya Hingga Putus Sekolah

0
88

KUPANG– Jalan setapak kecil berbatu, tak jauh dari bantaran kali Labat, mengarahkan saya ke sebuah rumah kecil, berdinding bebak yang sudah separuh lapuk. Rumah itu, tak ubahnya seperti sebuah gubuk.

Jika dipandang dari jauh, rumah itu tersembunnyi di antara himpitan rumah-rumah warga yang kokoh. Rumah itu terletak, di RT 02, RW 04, Kelurahan Bakunase II, Kecamatan Kota Raja.

Rumah itu, sudah beridiri puluhan tahun. Selama rentang waktu itu pula, telah melindungi sebuah keluarga miskin yang terus mencoba bertahan, menyulam kehidupan, hari demi hari.

Seorang perempuan paru baya, yang kemudian kuketahui bernama Jeni Marice Adoe (43) yang juga ibu dari Bram, Bocah yang telah menganggung luka di perutnya, selama empat tahun belakangan. Luka itulah yang membawaku ke gubuk ini, senin, (27/5/2019).

Baca juga : Kisah Pilu Derita Delti Seo, Siswi SMP Kupang Diperkosa, Hamil Hingga Diterlantarkan

Marice, manyambut saya apa adanya, tanpa alas kaki, mengenakan celana pendek, baju warnah biru yang sudah memudar, keringat kecilnya masih mengalir pelan.

Ia kemudian memepersilakan saya masuk. Rumah berlantai tanah itu, hanya memliki dua kamar saja. Satu untuk keluarga, satu kamar depan difungsikan ganda, sebuah bale-bale diletakan disudut ruangan depan itu.

“Saat tamu-tamu sudah pulang, ke empat anak saya tidur disini,” ujarnya.

Penopang atap rumah itu, terbuat dari batang pohon kelapa yang kelihatan sudah dimakan rayap. Pilar dinding rumah terbuat dari kayu yang nampak begitu rapuh, menggambarkan rumah ini, belum pernah direnovasi.

Dibagian dapur, mereka memanfaatkan seng-seng bekas berkarat untuk membuat dapur darurat. Seng-seng itu, sudah kelihatan menghitam akibat asap -asap dari tungku batu yang berada dalam dapur itu.

“Ayolah Nak, mari,” ia memanggil anaknya Bram. Bocah malang itu kemudian duduk disampingnya, bersama ketiga adiknya yang masih kecil. Ayahnya, yang sebermula membantu merenovasi rumah tetangganya kemudian datang dan bergabung dengan kami. Ia mengenakan celana pendek, juga tanpa alas kaki.

Untuk menghidupi ke empat anaknya, Marice bekerja apa saja. Mencuci pakaian orang dan menyetrikanya, sementara suaminya, Nahum Tamoes (42), bekerja sebagai buruh kasar lepas.

Bram Tamoes (8), anak pertama mereka, bocah sekolah dasar yang terpaksa berhenti sekolah karena luka yang dialaminya. Luka itu, kemudian merenggut masa depannya.

Marice mengisahkan, Bram, mengalami luka mengangah di perutnya akibat tusukan benda tajam dari dalam lubang duburnya. Luka itu ia dapatkan saat Bram bermain dengan anak-anak seusinya di bantaran kali Labat 2015 silam.

Peristiwa memilukan itu bermula, saat Bram memanjat pohon mangga yang berada disekitaran area bermain mereka, nahas menimpahnya, ia terjatuh. Dibawah pohon mangga itu, terdapat sebuah batang kayu yang tajam berukuran sekitar kira-kira 60 CM yang berada dibawah pohon mangga itu.

“Saat ia terjatu itulah, bagian duburnya mengenai benda kayu tajam itu. Kayu tajam itu menikam lubang duburnya sampai masuk ke dalam ususnya,” ujarnya.

Bocah malang itu kemudian berusaha bangkit dan sekuat tenaga mencabut kayu itu sendiri dari lubang duburnya. Namun, sebagian kayu itu, masih tertinggal di dalam ususnya.

Bocah malang itu kemudian dibawah orang tuanya ke rumah sakit umum (RSU) Profesor Yohanes Kupang. Di sana ia menjalani operasi untuk mengeluarkan sisa kayu yang tertanam di dalam ususnya itu.

Dalam pelaksaan operasi itu, tim medis terpaksa membuat lubang diperutnya. Hal ini dilakukan agar dia bisa mengeluarkan tinjanya. Sebab, menurut tim medis, ada bagian usus didalamnya pecah sehingga tinjanya tak bisa lagi keluar lewat lubang duburnya.

Setelah dilakukan operasi pertama, Bocah malang itu, masih mengeluh sakit dan masih mengeluarkan sisa-sisa kotoran melalui lubang bekas operasinya.

“Jadi kami melakukan operasi ke dua dan pulangnya, Bram sudah agak baikan, tapi tetap masih merasa sakit. Apabila ia kencing dan buang air besar, masih ada serpihan kotoran yang keluar, sebagian diduburnya, sebagian masih dilubang bekas operasi,” ujarnya.

Tak Mampu Tanggung Biaya

Marice mengisahkan, pada operasi pertama dan kedua, mereka masih terbantu biaya, karena menggunakan kartu kesehatan gratis untuk warga miskin.

Namun, mereka terpaksa tak melakukan operasi lagi, karena masa berlaku kartu kesehatan itu habis. Mereka tidak memiliki uang untuk biaya kesehatan anaknya itu.

“Saya sangat hersedih melihat kondisi anak saya, namun apa mau dikata, kami tak memiliki uang untuk biaya pengobatannya lagi,” ujarnya.

Bram, kemudian terpaksa berhenti sekolah karena lukanya itu. Hari-harinya Bram hanya berada di rumah, sekaligus menjaga adik-adiknya.

Baca juga : Perjuangan Hidup Pasutri Lansia di NTT yang Bikin Luluh Hati Bupati Nagekeo

Marlice mengatakan, rupanya penderitaan mereka ini, tercium oleh lembaga kemanusiaan bernama Kolewa Harapan Indonesia. Mereka menjanjikan, setelah lukanya kering, barulah Bram bisa dibawah ke Bali untuk melakukan operasi lanjutan oleh dokter ahli.

Namun, rencana mereka itu terkendala pada BPJS Kesehatan yang belum mereka miliki. Sudah berbulan-bulan mereka berusaha mengurus BPJS, namun terkendala pada persyarataan akte Nikah, karena Akte itu belum mereka miliki.

“Jadi sekarang, saya hanya berharap, orang-orang bisa membantu saya, untuk mengatasi persoalan saya ini. Semoga dalam waktu dekat, bisa terselesaikan urusan ini dan Bram bisa beroperasi dan kembali bersekolah, bercanda dengan teman-temannya,” Marlice mengatakan ini dengan nada penuh harapan.

Marlice menunduk saat selesai menceritakan ini, sesekali mengangkat wajahnya dan memandang anaknya itu dengan tatapan penuh haru. Sementara, tak jauh dari rumah mereka, di bantaran kali Labat, bocah-bocah seusianya tengah bermain gembira. Melompat riang, dan bercanda, sesekali melompat ke dalam aliran air yang mengalir. Bram terus memandang bocah-bocah seusinya itu.

Aku pamit pulang, Marlice mengantarku pada batas halaman rumahnya. Aku berjalan pulang melewati jalan setapak tadi, Sesekali berhenti menoleh ke arah rumah itu. Bram masih duduk di samping Ayahnya, mengibas-ngibas lukanya.

Artikel ini ditulis oleh jurnalis Victory News, Rafael L. Pura dan sudah dimuat di halaman depan koran harian umum Victory News, 27 Mei 2019.