Pelaku Penganiayaan Bebas, Polsek Niki-Niki Disebut Abaikan Laporan Korban

Pelaku Penganiayaan Bebas, Polsek Niki-Niki Disebut Abaikan Laporan Korban

1,379 Read

KUPANG– Warga Desa Pene Utara, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang menjadi korban penganiayaan mengaku kecewa terhadap penyidik Polsek Niki-Niki. Pasalnya, kasus penganiayaan yang dilaporkan pada Kamis (18/4/2019) lalu hingga kini tidak diproses.

Tiga warga yang menjadi korban penganiayaan yakni, Daniel Tunliu (58), Ambrosius Tunliu (78) dan Arki Tunliu (15). Ketiganya dianiaya oleh kakak beradik, Nikson Nenobai dan Yulius Nenobais. Ironisnya, kedua pelaku kini bebas berkeliaran tanpa diproses hukum.

“Sudah dilaporkan tetapi polisi minta kami damai. Setelah damai, pelaku tidak menjalankan kewajiban sesuai dalam isi surat perdamaian maka kami laporkan ulang, tetapi tidak ditindaklanjuti,” ujar salah satu korban penganiayaan, Daniel Tanliu kepada wartawan, Senin (10/6/2019).

Baca juga : Kasus Penganiayaan di THM Kupang, Laporan Korban Mandek di Tangan Polisi

Ia menuturkan, ketiganya dianiaya pada Kamis 18 April 2019 sekitar pukul 16.00 wita di kebun milik mereka. Saat sedang memperbaiki pondok, dua kakek itu didatangi pelaku dan langsung menganiaya mereka. Melihat ayahnya dianiaya, pelajar SMP, Arki Tunliu berusaha melerai. Namun, nahas bagi dia. Ia malah turut dianiya para pelaku hingga babak belur.

“Motifnya soal klaim kepemilikan lahan. Kami dianiaya sampai tangan saya nyaris patah,” katanya.

Dia mengaku, saat kejadian, kedua orangtua pelaku berada di lokasi kejadian. Mereka malah menyuruh pelaku untuk menganiaya para korban.

Surat Damai

Ia menjelaskan, setelah kejadian, ketiga korban langsung membuat laporan. Bahkan polisi pun langsung melakukan visum. Kepada mereka polisi kemudian meminta untuk mediasi. Alhasil, mereka pun sepakat berdamai dengan persyaratan, pelaku wajib membayar denda adat berupa tiga ekor sapi. Namun, hingga waktu yang ditetapkan untuk dilakukan penyerahan denda adat, para pelaku menolak membayarnya.

“Sebelum kami pulang, salah satu polisi juga berpesan, kalau pelaku tidak mau melakukan sesuai isi surat damai untuk bayar denda adat, silahkan lapor kembali ke Polsek,” tandasnya.

Baca juga : Polisi Tetapkan 3 Tersangka Kasus Penganiayaan Keluarga Pasien di TTS

Merasa ditipu, ketiga korban kemudian kembali ke Polsek Niki-Niki untuk kembali membuat laporan polisi. Namun, laporan mereka malah ditolak tanpa alasan jelas.

“Kami tidak paham hukum, kami hanya mau mencari keadilan,” imbuhnya.

Tidak Profesional

Kuasa hukum korban, Yance Mesakh, SH menilai penyidik Polsek Niki-Niki tidak profesional menangani kasus tindak pidana. Karena itu, ia meminta Polda NTT segera memanggil penyidik Polsek Niki-Niki untuk diperiksa.

“Masa polisi bertindak seperti pengacara dari pelaku. Perdamaian itu bukan atas kehendak klien saya sebagai korban, tetapi kemauan polisi. Kasus ini harusnya tetap jalan selama laporan polisi belum dicabut oleh korban,” tegas Yance kepada wartawan, Senin (10/6/2019).

Kuasa hukum korban, Yance Mesakh

Ia mengatakan, sejak mendapat surat kuasa dari korban, ia langsung berkoordinasi dengan penyidik Polsek Niki-Niki, namun tidak menemui titik terang. Merasa nasib kliennya diabaikan, Ia kemudian membuat pengaduan ke Propam Polda NTT.

Setelah membuat pengaduan ke Polda NTT, kata Yance, kliennya dihubungi salah satu penyidik Polsek Niki-Niki untuk menghadap. Namun, bukannya dimintai keterangan sebagai korban, malah ketiga korban diintimidasi.

“Mereka diancam, dimarahi oleh penyidik. Bayangkan, korban ini sudah tua dan satunya masih bawah umur. Seharusnya polisi profesional, bukan bersikap seolah-olah melindungi pelaku,” katanya.

Ia menambahkan, akan menyurati Kapolda NTT dan Kapolres TTS terkait sikap penyidik Polsek Niki-Niki yang menurutnya, mengabaikan laporan masyarakat. (Dian/L6)

Komentar Anda?