Konggres Komunitas Marapu di Sumba, Antara Kepercayaan dan Budaya

0
7

TAMBOLAKA- Pulau Sumba dikenal dengan sebutan sandlewood. Di tanah Sumba masih ada warga penanut Marapu.

Marapu sendiri merupakan salah satu kepercayaan tertua di Sumba yang meyakini leluhur merupakan jembatan penghubung antara manusia dan Tuhan. Mereka menyembah Tuhan melalui perantara leluhur lewat bebatuan dan pohon besar.

Baca juga : Tangan Dingin Viktor Laiskodat Selesaikan Konflik Tapal Batas di SBD 

Kali ini, komunitas Marapu menggelar konggres Marapu sedaratan Sumba yang diadakan oleh yayasan pengembangan kemanusiaan Dondres yang bekerjasama dengan The Asia Foundation di gedung serba guna Wertobula, Kabupaten Sumba Barat Daya, Selasa (25/6/2019).

Konggres ini mengusung tema Marapu dan narasi dialog inklusif-profetik bagi rancang bangun layanan sosial, promosi keadilan, rekonsiliasi, perdamaian dan keutuhan ciptaan.

Kegiatan itu diawali dengan penerimaan secara adat semua komunitas Marapu seluruh Sumbabdi lapangan TK St Theresia Weetebula sejak Senin (24/6/2019) sore.

Menurut Direktur YPK Dondres, P. Mike Keraf CSsR konggres Marapu digelar sebagai suatu upaya-upaya menyusun dengan baik elemen-elemen penting bagi komunitas Marapu. Selain itu, sebgai bagian dari upaya pendampingan dalam program peduli yang bekerjasama yayasan kemanusiaan dondres dibawah naungan The Asia Foundation dan kementerian PMK.

“Kerja sama ini sudah berjalan lama dan sudah menjadi bagian dari kerja-kerja pemerintah. Pada tahun ini kita berusaha menyerahkan kembali kepada pangkuan pemerintah untuk lebih peduli kepada warga masyarakat,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (25/6/2019).

Ia mengatakan, konggres Marapu akan digelar Selasa 25 Juni hingga 28 Juni 2019. Kegiatan itu dihadiri oleh Pemda Sumba Timur, Sumba Barat, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya dan kementrian PMK.

Baca juga : Keceriaan Warga SBD Sambut Kedatangan Jokowi di Festival Tenun Ikat

Sementara itu, Prof. Robert Hesner dari Boston University mengatakan, budaya Sumba merupakan salah satu bagian dari kazanah kebudayaan di indonesia.

“Kepercayaan Marapu merupakan bagian penting dan kaya dari segi kebudayaan. Konggres marapu adalah kebudayaan. Bagi saya kebudayaan masyarakat Sumba itu sangat penting dan itu sebagai sumbangan bagi kebhinekaan dan menjadi kesatuan negara republik indonesia,” katanya.

Perda Perlindungan Marapu

Ngai Mehang Tana, rato (ratu) adat dari Sumba Timur mengatakan dengan adanya konggres Marapu diharapkan agar ada pelayanan terutama menyangkut pernikahan secara Marapu bagi warga penganut Marapu.

“Kami harap dengan adanya kegiatan ini penganut Marapu segera diakui di kabupaten-kabupaten yang ada di Sumba,” ujarnya.

Nono Buni Kose, selaku ketua umum penganut kepercayaan Marapu Sumba Barat mengatakan, undang-undang naisonal No 27 tahun 2016 menyatakan bahwa penganut kepercayaan boleh mengisi kolom agama pada KTP sesuai penghayat kepercayaannya. Namun hingga kini belum terakomodir oleh pemerintah di tingkat daerah.

Ia meminta Pemda segera membuat Perda perlindungan untuk masyarakat penganut kepercayaan Marapu agar didaftarkan di pencatatan sipil.

“Salah satunya kami harus mendaftar di Kesbangpol, karena Kesbangpol yang mengeluarkan akte notaris, baru kami bisa masuk di perubahan KTP pada kolom agama,” katanya.

Ia menambahkan, penganut kepercayaan Marapu tidak pernah mengajarkan ajaran-ajaran sesat. Ia berharap dengan adanya konggres Marapu, dapat membantu anak-anak penganut Marapu untuk bisa bersekolah dan menuntut ilmu yang lebih tinggi dan tidak dipersulitkan dalam hal pengurusan administrasi.

“Seharusnya kami dilindungi oleh pemerintah dan menyiapkan Perda untuk kami,” pungkasnya. (Deny TH)