Bursa Inovasi, Membangun Desa Lewat Produk Lokal di Rumah Budaya

0
81

TAMBOLAKA– Bursa inovasi kloter satu digelar di rumah budaya, Kalimbu Nga’a Bangga, Desa wee Londa, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Jumat (19/7/2019).

Bursa inovasi ini diikuti empat kecamatan di Kabupaten SBD yaitu Kecamatan Kota Tambolaka, Kecamatan Loura, Kecamatan Wewewa Barat, dan Kecamatan Wewewa Selatan.

Produk-produk lokal setiap desa dari empat kecamatan menjadi barang-barang olahan mewarnai bursa inovasi desa.

Baca juga : Potret Penderitaan Warga Desa Mata Weelima SBD : Krisis Air Bersih dan Hidup Tanpa Listrik

Salah satu peserta, Gabriel Pira mengatakan, desa memiliki potensi pangan lokal yang bisa diolah menjadi sentra perekonomian masyarakat, namun selama ini produk lokal belum digarap menjadi suatu inovasi.

“Selama ini masyarakat berpikir bahwa sesuatu yang lokal itu tidak menarik, padahal potensi itu bisa menjadi nilai jual yang lebih baik,” ujarnya.

Dengan adanya bursa inovasi, kata dia, akan bermanfaat bagi masyarakat di desa-desa, karena semua produk yang diolah bisa ditunjukkan di kegiatan bursa inovasi desa ini.

Teresia A. Malo, peserta dari desa Laga Lete mengatakan, dengan adanya bursa inovasi, masyarakat desa banyak mendapatkan hal-hal positif. Produk-produk lokal dapat diolah lewat kerjasama, sehingga dapat meningkatkan ekonomi keluarga.

“Bisa menambah penghasilan dan lebih kreatif,” katanya.

Untuk mengubah produk lokal, masyarakat masih mengalami kendala seperti modal, kemasan dan komuniti jahe. Ia berharap pemerintah daerah bisa mengadakan bibit jahe untuk diolah.

“Kemasan ini masih sederhana dan kami masih butuh pengemasan yang lebih bagus lagi,” tandasnya.

Baca juga : Kekeringan, Warga Desa Mata Weelima SBD Harus Jalan 3 Km Demi Air Bersih

Sementara itu sekretaris tim inovasi kabupaten, Lodowik L. Raya berharap melalui bursa inovasi, warga desa di SBD bisa bekerjasama melalui pertukaran pengetahuan, ide dan praktek-praktek tercerdas di bursa A yaitu infrastruktur, bursa B sumber daya manusia dan bursa C wirausaha.

Ia mengtakan, desa wajib menulis potensi dan kekuatannya di kartu ide dan hasilnya akan ditukar dengan sertifikat yang ada di panitia. Apa yang di tulis di kartu komitmennya, diharapkan untuk direplikasikan pada APBdes di tahun 2020.

“Desa harus selalu belajar dari pihak-pihak lain dan belajar juga dari pengalaman tentang kegagalan membangun desa agar bisa berubah kedepan,” pungkasnya. (Denni)