Cerita Mistis Warga Pulau Komodo, Bayi Kembar yang Menjelma Jadi Komodo

0
586

LABUAN BAJO- Tokoh masyarakat Kampung Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Haji Salam mengungkapkan hewan Komodo merupakan saudara kembar masyarakat kampung Komodo.

Kisah soal sejarah hubungan darah mereka dengan hewan Purba itu memang bagi masyarakat umum, cerita ini hanya mitos belaka. Namun, bagi warga Kampung Komodo, ini sejarah nenek moyang mereka yang diyakini benar.

“Komodo adalah saudara kami. Dia tidak akan memakan kami. Kami juga pantang membunuh Komodo,” kata Salman kepada wartawan, Rabu (7/8/2019).

http://www.diantimur.com/2019/08/07/tolak-direlokasi-warga-pulau-komodo-siap-memilih-mati/

Begini kisanya , beradab-abad yang lalu hiduplah seorang putri yang bernama Putri Naga. Ia hidup dan tinggal di sebuah pulau.

Sang putri kemudian menikah dengan seorang pemuda dari pulau seberang yang bernama Moja. Tidak lama berselang, dari perkawinan kedua insan tersebut, sang putri hamil dan melahirkan dua anak kembar berjenis kelamin laki-laki. Namun malang tidak dapat ditolak, kedua anak kembar tersebut ditakdirkan mempunyai bentuk yang berbeda.

Satu berbentuk manusia dan satu lagi berbentuk kadal. Keadaan ini membuat Putri Naga dan Moja malu, karenanya, anak yang berbentuk kadal dan diberi nama Sabia yang sering dipanggil ‘Ora dan sekarang disebut komodo’ diasingkan ke hutan di pulau yang berbeda. Sedangkan bayi manusia diasuh dan diberi nama ‘Gerong’.

Hari berlalu dan tahun demi tahun berganti Gerong bertumbuh menjadi seorang pemuda yang tangkas dan gagah berani. Diceritakan suatu saat Gerong hendak berburu rusa di hutan, dan dia bertemu dengan seekor kadal raksasa.

Gerong lantas mengejar kadal raksasa itu dan hendak membunuhnya dengan tombak. Tiba-tiba, ibunya si Putri Naga muncul dan mencegah Gerong yang saat itu hendak mengayunkan tombaknya ke arah kadal raksasa tersebut.

Si Putri Naga memberitahu Gerong bahwa kadal raksasa itu adalah Sebai atau ora atau komodo yang merupakan saudara kembar Gerong.

Selepas dari kejadian itu, masyarakat sekitar memperlakukan komodo itu dengan baik layaknya saudara sendiri.

“Pernah ada seorang ibu, yang digigit komodo, dalam keadaan terjepit ibu Tima, merintih, “Sebai kenapa saya digigit, kitakan bersaudara ?”  Komodo  predator itu kemudian melepaskan ibu itu dan meninggalkannya pergi,” tuturnya.

Bukan Kewenangan Gubernur

Menurut warga Pulau Komodo, rencana penutupan Pulau Komodo dan merelokasi warga oleh pemerintah NTT bukan wewenang Gubernur NTT, Viktor Laiskodat.

Kisruh itu, membuat imam Katolik Pater Marsel Agot bertemu beberapa petinggi dari Kementerian Pariwisata yakni Direktur Promosi Wilayah Grade China Kementrian Pariwisata Republik, Vinsen Jemadu dan Frans Tegu di Labuan Bajo, Selasa (23/7/2019). 

Menurut Marsel, wacana relokasi warga Pulau Komodo harus dapat diselesaikan dengan arif dan bijak.

“Saya meminta petinggi dari Kempar yang sedang berada di Labuan Bajo, untuk bisa berdialog dengan perwakilan masyarakat Komodo yang saat ini resah dan gelisah,” kata dia.

Leader Ismail, salah satu fotografer NTT berpose dengan latar belakang Kota Labuan Bajo (Foto: Leader Ismail)

Ia mengatakan, masyarakat merasa terancam dipindahkan dan kehilangan pendapatan. Mata pencaharian sebagai pelaku pariwisata, dengan banyak wisatawan ingin melihat komodo, akan hilang.

“Sampai sekarang Pulau Komodo masih dibuka untuk umum, belum ada keputusan untuk merelokasi bagi masyarakat komodo, bersyukur bahwa wacana penutupan dan relokasi itu masih dalam wacana “ katanya.

Isu penutupan Pulau Komodo membuat berapa paket wisata dalam wilayah promosi grade China banyak yang batal melakukan perjalanan wisata ke Labuan Bajo.

“Target Kempar untuk kunjungan wisata menjadi berkurang ke wilayah ini,” kata dia.

Ia berharap agar wacana relokasi dan penutupan kunjungan wisatawan ke Pulau Komodo oleh Gubernur NTT Viktor Laiskodat harus dihentikan. (DIAN/L6)