Polisi Amankan 80 Ton Beras Ilegal dari Makasar, Libatkan Bulog NTT?

0
128

KUPANG– Polres Kupang Kota mengamankan 80 ton beras yang tidak memiliki merek di Pelabuhan Tenau Kupang, Kamis (25/7/2019) sekitar pukul 17.00 Wita.

Beras tersebut diangkut dari Pelabuhan 77 Desa Tarasu, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi selatan menggunakan KM Sama Indah.

“Untuk sementara kami tengah mendalami dengan melakukan penyelidikan,” ujar Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu Bobby Jacob Mooynafi, Selasa (6/8/2019) sore.

Ia mengatakan, dalam kapal motor tersebut diangkut sebanyak 80 ton beras, namun hanya sekitar 10 ton beras yang memiliki merek. Sedangkan 70 ton lainnya tidak memiliki merek.

Beras tersebut merupakan milik dari seorang warga Kota Kupang berinisial A. Pria yang berprofesi sebagai wiraswasta tersebut mengaku, telah dua kali mengirimkan beras dari Sulawesi ke Kupang.

Libatkan Bulog

Kepada pihak kepolisian, A mengaku telah melakukan perjanjian lisan dengan pihak Bulog Divisi Regional NTT.

Dalam perjanjian tersebut, pihak Bulog Divisi Regional NTT bersedia membeli sejumlah beras yang ia datangkan.

“Dia ngakunya sudah dua kali datangkan beras dan dipesan oleh  Bulog Kupang. Katanya ada perjanjian lisan, makanya dia berani memasukkan beras ke Kota Kupang,” tandas Iptu Bobby.

Saat ini, pihaknya tengah menyelidiki kasus tersebut, apakah memenuhi delik sesuai dengan amanat pasal 104 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan.

Dalam pasal tersebut, termuat jelas bahwa akan memberikan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak Rp5 miliar rupiah jika pelaku usaha tidak menggunakan atau tidak melengkapi label berbahasa Indonesia pada barang yang diperdagangkan dalam negeri.

Untuk itu, pihak kepolisian juga telah melayangkan surat kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi NTT untuk dimintai keterangan terkait hal tersebut.

“Kami sudah layangkan surat ke sana dan direncanakan besok akan dilakukan pemeriksaan,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga akan meminta untuk melihat apakah beras tersebut layak konsumsi atau tidak.

“Walaupun secara kasat mata beras itu layak konsumsi, akan tetapi perlu ada kajian dari pihak Disperindag Provinsi NTT,” paparnya.

Selain memeriksa pemilik beras, Bobby menjelaskan, pihaknya telah memeriksa beberapa saksi diantaranya, nahkoda kapal dan tiga orang sopir truk yang bertugas mengangkut beras tersebut. (IXAM/L6)