Bocah Sekolah Dasar di Kupang Jadi Budak Seks Kepala Sekolah

0
6769

Foto : Penyidik unit PPA Sat Reskrim Polres Kupang sedang memeriksa kepala sekolah yang juga tersangka kasus pencabulan siswi sekolah dasar (Foto : Dokumen polisi)

KUPANG– Seorang siswi sekolah dasar berinisial AD (13), warga Kelurahan Buraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, NTT menjadi korban pemerkosaan guru kepala sekolah, Adrianus Tnunay (57).

Aksi guru bejat ini terkuak setelah AD mengadukan perbuatan Adrianus ke orangtuanya yang kemudian melaporkan ke polisi.

“Kasus ini dilaporkan pada Sabtu (21/9/2019) tentang tindak pidana persetubuhan anak dibawah umur melalui laporan polisi nomor LP : LP/B/368/IX/2019/NTT/Polres Kupang tanggal 21 September 2019,” ujar Kasat Reskrim Polres Kupang, Iptu Simson Amalo kepada wartawan, Jumat (4/10/2019).

Ia mengatakan, dari pengakuan korban, pelaku sudah tiga kali menyetubuhi korban dalam waktu yang berbeda.

Kejadian pertama dialami korban pada tanggal 22 Juli 2019 sekitat pukul 13.00 wita di rumah pelaku. Saat itu usai jam sekolah,  pelaku mengajak korban untuk memetik pinang di kebun pelaku. Saat itulah pelaku beraksi mencabuli korban.

Setelah melampiaskan nafsu bejatnya, pelaku mengancam korban agar tidak memberitahukan kepada siapapun. Untuk membujuk korban, pelaku memberikan uang sebesar Rp 5.000.

Merasa aman, pelaku mengulangi perbuatan bejatnya. pada awal bulan Agustus 2019, pelaku kembali mencabuli dan memperkosa korban  di rumah pelaku pada pukul 13.00 wita.

Seperti kejadian sebelumnya, pelaku mengajak korban untuk memetik pinang di kebun milik pelaku. Namun, ajakan tersebut hanya modus pelaku. Bukannya memetik pinang tetapi pelaku langsung membawa korban ke rumahnya dan menyetubuhi korban.

“Selanjutnya pada 20 Agustus 2019, pelaku kembali memperkosa korban  di rumahnya dengan modus yang sama,” katanya.

Takut Ancaman

Pada Sabtu (21/9/2019) siang sekitar pukul 12.00 wita, pelaku kembali mengajak korban. Ajakan pelaku kali ini ditolak korban. Tolakan korban ini pun ditanggapi dengan ancaman oleh pelaku. Pelaku mengancam korban memotong nilai korban jika tak mau melayaninya.

“Karena takut dengan ancaman pelaku, korban pulang ke rumah dan menangis.Korban kemudian memberitahukan kepada neneknya kalau pelaku mengancam akan memotong nilai korban. Nenek korban kemudian memberitahukan kepada paman korban, Yan Otemusu sehingga kasus ini langsung dilaporkan ke polisi,” tandasnya.

Saat ini pelaku sudah diamankan polisi.Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan lasal 76 D jo Pasal 81 undang-undang RI Nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah nomor 1 tahun 2017 tentang perubahan kedua atas undang-undang RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. (DianTimur)