oleh

Kesuksesan dan Kekecewaan Chano, Sang Pianis Cilik

DianTimur.com, Yohanes Chano Pasirua, sang pianis cilik yang telah mengharumkan nama bangsa di negeri Paman Sam kini telah kembali ke Ende kota asalnya usai mengikuti olimpiade seni pertunjukan dunia atau world instrument champions di Long Beach California, USA. Kedatangan Chano, disambut meriah oleh Bupati Ende serta ribuan warga dan mengaraknya keliling kota.

Dalam perlombaan kategori junior usia 11 – 12 tahun, Chano tampil memainkan musik klasik, jazz, open,  kontemporer dan original pop. Dari kelima jenis musik yang dilombakan itu, Chano unggul dengan menyabet semua medali emas. Sedangkan pada kategori usia 11-15 tahun, Chano mendapat plakat world champions dengan memainkan musik jazz, kontemporer dan open.

Chano tiba di bandara H. Aroeboesman Ende dengan didampingi ibundanya, Ermelinda. Pianis cilik ini tampak begitu bahagia dan ceria ketika turun dari pesawat meski lelah dalam perjalanan dari Jakarta. Saat tiba di bandara, pianis cilik ini  disambut meriah oleh Bupati Ende, Ir. Marselinus Y.W. Petu beserta ibu dan rombongan dari beberapa SKPD se-Kabupaten Ende. Bupati Marsel terlihat begitu bangga dengan pianis cilik ini sehingga usai upacara penjemputan sang bupati dengan gembira menggendong Chano yang mampu menjadi juara umum dalam ajang bergengsi tingkat dunia ini.

Disaksikan vivatimur.com, di halaman parkiran bandara H. Aroeboesman sudah dipenuhi masyarakat Ende yang datang untuk melihat ‘the winner’ yang baru pulang dengan membawa kemenangan. Demikian juga teman–teman Chano dari kelas VI SDK St. Ursula Ende bersama fans Chano yang sudah tidak sabar lagi bertemu Chano untuk mengaraknya keliling kota Ende.

 

Mengaku Kecewa

Namun, dibalik senyuman bangga orangtua Chano, terselip berjuta kekecewaan. Ibunda Yohanes Chano Pasirua, pianis kecil yang mengharumkan nama Indonesia di dunia itu mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintah indonesia khususnya konsulat RI di California, Amerika Serikat yang tidak merespon kehadiran kontingen Indonesia dalam olimpiade itu.

“Saya bahagia atas prestasi anak saya, tetapi saya sangat kecewa dengan pihak konsulat karena tidak merespon kehadiran kami disana,” ungkap Ermelinda saat ditemui di kediamannya di Jl. Anggrek, Kota Ende, Sabtu (30/7/2016)

Menurut dia, selain pihak konsulat Indonesia, pemerintah Indonesia juga yang hingga kini belum memberikan apresiasi apapun terhadap kesuksesan Chano.

“Saya mendampingi Chano dalam setiap perlombaan ini dan merasa bangga dengan prestasi yang diraihnya. Dan tentunya keberhasilan ini merupakan dukungan dari semua orang dan campur tangan Tuhan sehingga Chano bisa meraih sukses namun saya kecewa juga karena pemerintah Indonesia sampai kini tidak memberikan apresiasi apapun terhadap kesuksesan anak saya,” akunya.

Untuk diketahui, dalam perlombaan kategori junior usia 11 – 12 tahun, Chano tampil memainkan musik klasik, jazz, open,  kontemporer dan original pop. Dari kelima jenis musik yang dilombakan itu, Chano unggul dengan menyabet semua medali emas. Sedangkan pada kategori usia 11-15 tahun, Chano mendapat plakat world champions dengan memainkan musik jazz, kontemporer dan open.

loading...