Kapolsek Maulafa vs Asep Jeff, Kuasa Hukum : Bukti kapolsek anti kritik

0
1197

KUPANG– Kasus pencemaran nama baik yang dilaporkan Kapolsek Maulafa, Kompol Margaritha Sulabesi terhadap akun facebook, Asep Jeff alias Stefanus Jafon terus bergulir. Meski sudah melalui proses mediasi, Kompol Ritha enggan menarik laporannya.

Menanggapi itu, kuasa hukum Asep Jeff, Tommy Jacob mengatakan, laporan Kapolsek Maulafa terhadap kliennya tidak mendasar. Ia malah menanyakan laporan polisi yang dilayangkan Kompol Ritha, apakah secara pribadi atau institusi.

http://www.diantimur.com/2019/08/02/diduga-aniaya-warga-seorang-pastor-di-kupang-dipolisikan/

Ia menjelaskan, postingan Asep Jeff menyebut kata ‘Kapolsek’ bukan Margaritha Sulabesi. Jika secara badan hukum atau institusi,  Kompol Ritha seharusnya meminta persetujuan Kapolres atau Kapolda sebagai atasannya, bukan secara pribadi.

“Subjek hukum itu ada dua, orang dan badan hukum dan Kapolsek itu bagian dari badan hukum, sementara laporan terhadap klien saya itu secara pribadi,” ujar Tommy kepada wartawan, Jumat (2/8/2019).

Menurut Tommy, postingan kliennya itu sebagai bentuk kritikan dari masyarakat, bukan sengaja mencemaran nama baik seseorang. Sebagai anggota Polri, kata dia, Kompol Ritha seharusnya punya tugas mengayomi masyarakat, bukan malah tersinggung dan mempidanakan warga yang mengkritisi kinerjanya.

“Proses hukum kasus kehilangan brangkas itu yang dikritik Asep Jeff, itu bukan penghinaan tetapi kritikan. Seorang penegak hukum tugasnya mengayomi masyarakat dan menegakan hukum. Ini bukti bahwa Kapolsek Maulafa anti kritik, tidak mau kinerjanya dikritik,” kata Tommy.

“Objek hukum yang dilaporkan itu kata ‘bai ngao’ dan ‘buta knop’, itu bahasa daerah Kupang yang artinya, bai = kakek dan ngao = setan = kakek setan. Kakau ‘buta knop’ artinya = sesuatu hal yang keliru dan itu tidak berarti penghinaan,” tambah Tommy.

Jika kasus ini terus berjalan, ia meminta penyidik untuk menghadirkan ahli bahasa daerah Kupang yang bisa menerjemahkan objek hukum yang dilaporkan.

Sementara itu, Kapolsek Maulafa Kompol Margaritha Sulabesi mengatakan, meski sudah menempuh jalur mediasi, namun ia enggan menarik laporannya.

“Sebagai manusia saya memaafkan, tetapi proses hukum tetap berjalan,” ujar Kompol Ritha kepada wartawan, Jumat (2/8/2019).

Ia mengaku menolak permintaan maaf dari Stefanus Jafon pemilik akun Facebook (FB) Asep Jeff atas kasus penghinaan dan pencemaran nama baik yang dilaporkan ke Polda NTT, pada tanggal 11 Juli 2019 lalu.

Postingan Berujung Pidana

Kasus ini bermula dari postingan Asep Jeff di facebook yang menilai Polsek Maulafa tidak mampu menyelesaikan sejumlah kasus. Kasus yang dimaksud Asep Jeff itu berupa, pencurian brankas di Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia NTT dan kasus penganiayan yang melibatkan Naning Jari.

http://www.diantimur.com/2019/07/25/tudingan-mark-up-anggaran-bupati-sikka-bakalan-dipolisikan/

Dalam Postingan itu Asep Jeff menyebut Polsek Maulafa tak mampu menyelesaikan kasus pencurian berankas di BPSDM NTT senilai Rp 300 juta lebih, padahal menurut Asep Jeff kasus itu sudah mempunyai indikasi petunjuk yang jelas, yang melibatkan orang dalam, namun sampai detik ini, Polsek Maulafa tak mampu menyelesaikannya.

Asep Jeff kemudian mengunggah kasus dua penganiayaan dengan penyelesaian yang berbeda, kemudian membandingkannya. Dia menggunggah kasus penganiayaan di tempat “mete” di Oepura yang sudah dilakukan visum namun belum P-21 atau lengkap. Namun sebaliknya, ada kasus yang melibatkan dua ibu rumah tangga yang hanya bertengkar mulut dan tak ada kontak fisik yang melibatkan Nining Jari, namun kasusnya sudah naik sampai P-21.

“Saat itu, orang datang ke rumah ceritakan kasusnya, maka saya (kang Asep Jeff) hanya tersenyum, sambil berkata luar biasa dasyatnya Polsek Maulafa dalam merekayasa kasus kriminal dengan penyalagunahan pasal 351 KUHP. Oleh karena itu, Kapolsek Maulafa harus dicopot sebab terindikasi ahli rekayasa kasus. Kasus yang nyata di Polsek Maulafa, dibuatnya jadi gelap gulita, bukan kasus yang nyata, dibuat jadi terang benderang. Jago Rekayasa Kasus Rupanya,” tulis Asep Jeff dalam unggahannya itu.

Di lain kesempatan Asep Jeff kembali menggunggah di akun facebooknya, ” Kapolsek Maulafa harus belajar lagi ilmu hukum pidana agar jangan “Baingao”. Kasus Tipiring itu bukan berarti dimaknai sebagai negara yang memusuhi masyarakat, Kapolsek Maulafa Buta Knop, tapi upaya mediasi kekeluargaan lebih tinggi dari pasal ecek-ecek 351, paham filosofi hukum atau buta knop lai,” tulis Asef Jef.

“Ibu Kapolsek Maulafa Patut dicopot karena tidak profesional dalam bidang tugasnya. Cuma jago rekayasa kasus Tipiring doang, sedangkan kasus pencurian uang berankas di badan diklat apakah tu Kapolsek Maulafa berani usut?,” tulisnya.

Postingan Asep Jeff ini berujung pidana. Kapolsek Maulafa, Kompol Margaritha Sulabesi kemudian membuat laporan ke Polda NTT dengan bukti Nomor Polisi LP/B/237/V11/Res1.24/2019/ SPKT.(DIAN/L6)