oleh

Tak Terima Diputusin, Pria di Sikka Gugat Mantan Pacar, Sang Mantan pun Gugat Balik

SIKKA– Kata pepatah, cinta itu buta. Ini yang dialami Alfridus Aliyanto, saking cintanya ia menggugat mantan pacar bernama Fransiska Nona Lilin ke Pengadilan Negeri Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Alfridus menggugat lantaran tidak terima diputuskan oleh Fransiska. Padahal keduanya sudah menjalin hubungan selama tiga tahun terakhir, dan akan dilamar sebagai istri oleh penggugat.

Alfridus meminta ganti rugi sebesar Rp 408.250.000. Jumlah tersebut 10 kali lipat lebih besar dari total pengeluaran Alfridus selama pacaran 3 tahun dengan Fransika yang hanya sebesar Rp 40.825.0000.

http://www.diantimur.com/2019/07/27/dihamili-siswa-sma-mahasiswi-di-kupang-lapor-polisi/

Sidang kedua yang dipimpin hakim tunggal Arif Majardika itu digelar di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Maumere, Jumat (2/8/2019).

Dalam sidang, Alfridus meminta agar tergugat mengganti biaya yang dikeluarkannya selama menjalin hubungan pacaran sesuai dengan bukti transfer sebesar empat puluh juta rupiah lebih, serta bukti-bukti belanja keperluan pribadi lainnya tergugat atau Fransiska.

Sementara itu Fransiska sebagai tergugat dalam keterangan dalam persidangan menilai, gugatan alfirdus tidak mendasar.

Menurut Fransiska, selama menjalin kasih apa yang diberikan penggugat dinilai sebagai bentuk kasih sayang terhadap seorang kekasih.

“Saya memutus hubungan dengan penggugat lantaran telah mengetahui penggugat telah menikah selama dua kali, dan dirinya tidak ingin menjadi istri ketiga,” katanya di hadapan hakim.

Hakim Arif Mahardika mengatakan, gugatan mantan kekasih ini merupakan kasus gugatan perdata sederhana. Sehingga setelah mendengar keterangan penggugat maupun tergugat, pihaknya akan terus menggelar proses tersebut sesuai dengan aturan hukum perdata yang berlaku.

Tuntut Balik

Menanggapi jumlah ganti rugi yang diminta mantan pacarnya tersebut, Fransiska menolak dalil-dalil gugatan sederhana dari penggugat (Alfridus) melalui kuasa hukumnya, Marianus Moa, dalam sidang jawaban atas gugatan pada Jumat (2/8/2019).

Ia mengatakan uraian dan dalil-dalil yang diungkapkan Alfridus pada kronologis gugatan sederhananya, tidak mengandung kebenaran sedikit pun.

“Bahwa selama masih pacaran, tergugat tidak pernah membuat pernyataan baik lisan maupun tertulis akan mengembalikan uang atau kerugian dari penggugat, apalagi 10 kali lipat,” ungkap Marianus.

http://www.diantimur.com/2019/07/29/duel-maut-3-lawan-1-di-sikka-1-tewas/

Marianus menegaskan tuntutan ganti rugi Rp 408 juta merupakan hal berlebihan. Kliennya tidak pernah melakukan perbuatan melawan hukum, sehingga tidak ada kewajiban memenuhi tuntutan tersebut.

Fransiska juga tidak pernah meminta uang kepada Alfridus untuk membuat rumah di tanah miliknya yang masih kosong. Sebab sebelum berpacaran dengan Alfridus, fondasi rumah sudah dibangun oleh Fransiska sendiri, yakni pada awal tahun 2014 dan selesai dikerjakan pada Juli 2014.

Pada akhir Februari 2015, Alfridus mengutarakan niatnya untuk melamar Fransiska. Namun, lamaran tersebut ditolak oleh Fransiska dengan alasan dirinya dirinya belum siap. Terlebih lagi saat itu jalinan kasih yang dibangun keduanya baru berjalan dua bulan.

Dalam keterangannya, Fransiska juga mengatakan pada saat itu dirinya masih ingin mempelajari sikap dan perilaku Alfridus yang mengaku sudah punya dua istri di Makassar dan Surabaya.

Fransiska juga membantah pada Juni 2018 ia pernah menyarankan Alfridus untuk melamarnya nanti di Desember 2018. Apalagi jalinan asmara keduanya telah berakhir pada Agustus 2018.

Fransiska memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Alfridus karena mantan pacarnya itu mengakui sudah mempunyai 2 orang istri dan 1 orang anak. Oleh karena itu, tergugat merasa tidak wajar jika Alfridus berniat menikahinya.

Lanjutnya, selama Fransiska berpacaran dengan Alfridus, wanita itu tidak pernah meminta uang atau menipu penggugat. Sebab Fransiska juga mempunyai pekerjaan tetap yaitu sebagai karyawati di Rumah Sakit St. Gabriel Kewapante sejak tahun 2014.

Marianus juga menuturkan akan menuntut Alfridus atas air minum yang disuguhkan dan WC yang digunakan saat berkunjung ke rumah Fransiska.

“Penggugat saat itu datang ke rumah tergugat, (lalu) menggunakan WC (dan) akan dituntut ganti rugi. Sebab WC dibangun untuk dimanfaatkan bersama keluarganya bukan oleh penggugat,” ungkap Marianus.

Sidang lanjutan akan digelar pekan depan dengan agenda menghadirkan saksi dan pembuktian. (J. D Gomez)

Komentar