oleh

DPR NTT Desak Pemerintah Segera Atasi Kasus Stunting di Kabupaten Belu

Foto : Anggota Komisi II DPRD NTT, Bernardinus Taek saat melakukan reses di Desa Teun, Kecamatan Raimanuk, Belu

ATAMBUA – Kabupaten Belu, NTT merupakan salah satu kabupaten di perbatasan RI-RDTL sebagai daerah yang tinggi angka stunting.

Di desa Desa Teun, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, ada 335 anak menderita stunting. Hal ini terungkap dalam kegiatan Reses anggota Komisi II DPRD NTT, Bernardinus Taek di Kabupaten Belu, NTT, Rabu (18/3/2020).

Menurut Nandy, masalah stunting menjadi perhatian serius pemerintah Provinsi NTT. Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat bahkan telah menginstruksikan seluruh kepala desa di NTT menggunakan dana desa guna menekan angka stunting.

Ia mengatakan, perlu kerjasama semua pihak baik pemerintah desa, pemerintah Kabupaten Belu, dan pemerintah Provinsi NTT untuk mengatasi persoalan stunting tersebut.

“Saya minta semua pihak terutama pemerintah desa untuk bekerjasama menekan angka stunting yaitu dengan tanam kelor, makan kelor, sayuran, buah-buahan, dan makan makanan bergizi lainnya,” ungkap Nandi.

BACA JUGA : http://www.diantimur.com/2020/03/19/24-warga-eks-timor-timor-di-belu-ntt-belum-miliki-lahan-tinggal-nandy-saya-perjuangkan/

Dia juga menyarankan pemerintah Desa Teun agar menyiapkan makanan tambahan berupa susu untuk diberikan kepada ibu hamil dan anak-anak. Anggota DPRD NTT Fraksi PAN ini menekankan pentingnya pola hidup sehat agar masyarakat Desa Teun bisa terhindar dari persoalan stunting.

“Itu solusi jangka pendek. Di Desa Teun harus ada MCK dan masyarakat harus terapkan pola hidup sehat. Kita juga harus memberikan makanan tambahan berupa susu kepada anak-anak kita di sini. Persoalan stunting ini menjadi catatan bagi anggota DPRD NTT fraksi PAN yang ada di Komisi V agar bisa diperjuangkan dalam rapat komisi nanti,” ujar Nandi.

Sementara itu, Kepala Desa Teun, Agustinus Min mengatakan, angka stunting tersebut merupakan yang tertinggi di Kabupaten Belu.
Ia menjelaskan, pola hidup tidak sehat dari masyarakat Desa Teun menjadi faktor utama penyebab tingginya angka stunting.

“Masyarakat di Desa Teun, rata-rata belum punya MCK. Jam BAB biasanya jam 5 pagi dan jam 12 malam,” ucapnya.

Untuk mengatasi persoalan stunting, ia telah menganggarkan dana desa tahun 2020 untuk pengadaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada anak-anak di wilayah itu.

“Kita juga siapkan jaringan air bersih menuju rumah warga. Semuanya dibiayai oleh dana desa,” tandasnya.

Untuk diketahui, sesuai dengan Permendesa Nomor 19/2017 tentang prioritas penggunaan dana desa 2018, disebutkan bahwa Dana Desa dapat digunakan untuk kegiatan penanganan stunting sesuai musyawarah desa.

Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Umumnya disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.(Dian)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.