oleh

Golkar (NTT) Menuju Partai Milenial ?

Oleh: Refael Molina

Tahun ini, Partai Golkar resmi memasuki usia ke-56. Usia yang tak muda, jika dibandingkan dengan usia seorang anak manusia. Usia yang sudah dewasa, matang, bahkan dianggap telah melahirkan banyak karya. Lantas, bagaimanakah dengan Partai Golkar? Salah satu partai ternama di Indonesia yang didirikan 20 Oktober 1964 ini, hemat saya, sudah melewati berbagai dinamika politik di tanah air. Hiruk- pikuk politik mulai dari Orde Baru hingga reformasi turut diwarnai oleh peran dan eksistensi Partai Golkar (Golkar). Semuanya demi mewujudkan Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur.

Karena itu, sebelum saya membahas bagaimana partai ini bergegas menuju partai milenial di masa depan, tidak berlebihan jika pada momentum hari ulang tahun ini, masyarakat Indonesia perlu mengetahui kiprah dan perjalanan “Partai Beringin” – mengisi pembangunan Indonesia – dari masa ke masa.

Golkar Masa Orba

Jika dilihat kembali pada masa Orde Baru (Orba), partai yang semula dipimpin Brigjen (Purn) Djuhartono itu mengikuti Pemilu tahun 1971 dan berhasil merebut 236 kursi dari total 360 kursi MPR/DPR RI (1971-1977), dengan memilih Soeharto – Sultan Hamengkubuwo IX sebagai Presiden dan Wakil Presiden (1971-1977). Pada Pemilu 1977, Golkar meraih sebanyak 232 kursi dari 360 kursi MPR/DPR RI (1977-1982) dan memilih Soeharto – Adam Malik sebagai Presiden dan Wakil Presiden (1977-1982). Kemudian pada Pemilu 1982, Golkar merebut 242 kursi dari 360 kursi MPR/DPR RI (1982-1987) dengan memilih Soeharto – Umar Wirahadikusumah sebagai Presiden dan Wakil Presiden (1982-1987).

Selanjutnya pada Pemilu tahun 1987, Golkar meraih 299 kursi dari 400 kursi MPR/DPR RI (1987-1992) dengan memilih Soeharto – Sudharmono sebagai Presiden dan Wakil Presiden (1987-1992). Pada pemilu berikutnya, tahun 1992, Golkar merebut 282 kursi dari 400 kursi MPR/DPR RI (1992-1997) dengan Ketua MPR/DPR RI Wahono, yang juga Ketum Golkar (1988-1993) dan memilih Soeharto – Try Soetrisno sebagai Presiden dan Wakil Presiden (1992-1997). Tak hanya itu, pada Pemilu tahun 1997 Golkar meraih suara yang sangat signifikan, yakni 74,51 persen dengan meraih 325 kursi dari 400 kursi MPR/DPR RI (1997 – 2002) dengan Ketua MPR/DPR RI Harmoko, yang juga Ketum Golkar (1993-1998) dan memilih Soeharto – B. J. Habibie sebagai Presiden dan Wakil Presiden (1997-2002) (en.m.wikipedia.org).

Apa yang penulis paparkan di atas, bukan soal kejayaan Golkar pada masa Orba dalam memenangkan Presiden Soeharto saja, tetapi hal lain yang ingin dikemukakan adalah kiprah Golkar dalam melahirkan sejumlah kader dan wakil rakyat dalam menyuarakan dan mensejahterakan rakyat melalui lembaga (terutama) legislatif.

Golkar Masa Reformasi

Tak hanya sampai di situ, di era (pasca) reformasi 1998, pada Pemilu 1999, Golkar lagi-lagi merebut 120 kursi dari 500 kursi di DPR RI (1999-2004) dengan Ketua DPR RI, Akbar Tandjung, yang juga Ketum Golkar (1998-2004). Pada Pemilu 2004, Golkar juga merebut kursi terbanyak yakni 128 kursi dari total 550 kursi DPR RI (2004-2009). Kemudian pada Pemilu 2009, Golkar mengutus 107 wakilnya dari total 560 anggota DPR RI (2009-2014). Selanjutnya, pada Pemilu 2014, Golkar merebut 91 kursi dari total 560 kursi di DPR RI (2014-2019). Terakhir, pada Pemilu 2019, Golkar mengutus 85 wakil dari 575 anggota DPR RI (2019-2024) (en.m.wikipedia.org).

Hal menarik lainnya adalah – selain mengutus wakilnya ke Senayan – ternyata sejumlah Ketum Golkar juga pernah berkarya bagi Indonesia di masanya, diantaranya, Jusuf Kalla, pernah menjabat Wakil Presiden dua kali, masing-masing berpasangan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jokowi. Kemudian Aburizal Bakrie, pernah menjabat Menko Kesra di era Presiden SBY, dan Setya Novanto pernah menjabat Ketua DPR RI (2016-2018), juga Airlanga Hartarto (Ketum Golkar saaat ini) pun pernah menjabat anggota DPR RI, Menteri Perindustrian dan saat ini menjadi Menko Perekonomian. Dengan demikian bisa dikatakan, Golkar telah ikut berkontribusi dalam pembangunan bangsa, melalui kader-kadernya yang militan, loyal dan merakyat.

Tantangan Golkar

Lantas, apa yang menjadi tantangan Golkar (terutama) di era disrupsi saat ini? Tidak dapat kita pungkiri bahwa perkembangan digital hari-hari ini, telah membuat seluruh tatanan dunia berubah. Ibarat pepatah, tak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri. Jika tidak ingin berubah, Golkar bisa dianggap sebagai partai yang tidak peka terhadap perubahan dan tak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Bahkan bukan tidak mungkin, Golkar bisa diangap sebagai partai tua, sebagaimana usianya saat ini.

Zaman kita hidup hari ini, adalah zaman dimana generasi milenial bebas berekspresi dan berdialektika, terutama melalui media sosial. Itulah yang membuat negara urutan wahid demokrasi dunia Amerika Serikat, rela memantau aktifitas generasi milenialnya melalui media sosial. Kemenangan Presiden Barack Obama diyakini sebagai bukti nyata dari dukungan milenial. Peran milenial Amerika kala memenangkan Barack Obama kemudian diikuti oleh beberapa negara, termasuk Indonesia.

Pada Pemilu 2019, milenial mulai diminati oleh para politisi di tanah air. Media sosial yang didominasi oleh milenial pun kemudian menjadi ruang tersendiri bagi para politisi untuk melakukan kampanye politik. Tidak heran – jika dalam Pemilu – para politisi kita memiliki obsesi meraup massa dari para generasi milenial. Hal ini menjadi bukti bahwa generasi milenial memiliki suara dan peran yang sangat penting bagi pembangunan bangsa, dan itu mesti tersalurkan melalui Parpol, termasuk Golkar.

Menuju Partai Milenial

Lantas, bagaimana Golkar bergegas menuju partai milenial? Sebenarnya sudah ada pembenahan di kubu Golkar sejak awal menuju partai milenial. Beberapa organisasi sayap partai, seperti Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG), Ormas Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (KMGR) dan lainnya, yang dibentuk Golkar adalah untuk menggaet pemilih milenial. Ini adalah langkah mulia yang perlu dilanjutkan Golkar. Kendati demikian, untuk mewujudkan Golkar sebagai partai milenial di masa depan, hemat saya, ada dua hal fundamental yang perlu dilakukan Golkar.

Pertama, “merangkul”, bukan “memenangkan” generasi milenial. Saya lebih suka memilih diksi “merangkul”, ketimbang “memenangkan” generasi milenial. Mengapa? Karena, memenangkan generasi milenial, terkesan Golkar hanya menjadikan generasi milenial sebagai objek yang bisa diapa-apakan secara bebas, termasuk memanfaatkan suara generasi milenial untuk memenangkan Golkar pada hajatan Pemilu maupun Pilkada.

Sebaliknya, sudah saatnya Golkar berpikir lebih keras, menjadikan generasi milenial sebagai subjek yang berperan dan terlibat langsung dalam partai. Hal ini berkaitan erat dengan kaderisasi, bahkan konsolidasi partai. Sehingga, Golkar ke depan adalah partai yang dianggap berani menggaet generasi milenial sebagai kader-kadernya. Termasuk, memberikan ruang dialektika bagi milenial untuk ikut merasakan dinamika politik di tanah air, serta berbagi pemikiran dan gagasan untuk menentukan arah pembangunan bangsa ini ke depan.

Kita tahu bersama, bahwa pemuda – yang hari ini lebih dikenal dengan milenial – memiliki peran yang sangat strategis dalam pembangunan bangsa sejak dulu. Tak hanya menjadi mesin penggerak reformasi 1998, tetapi jauh sebelumnya, the founding father Ir. Soekarno pernah mengagung-agungkan pemuda yang memiliki peran dan andil besar dalam pembangunan bangsa. Karena itu, jika Golkar benar-benar ingin merangkul dan melibatkan kaum milenial, maka tidak berlebihan, jika saya bisa katakan, upaya tersebut sejalan dengan apa telah yang dicita-citakan pendiri bangsa kita sebelumnya.

Kedua, kaderisasi generasi milenial. Kaderisasi generasi milenial– di internal Golkar – memang perlu dilakukan, agar tidak muncul politisi-politisi karbitan yang hanya berambisi memegang kekuasaan partai. Hal ini dilakukan agar menghindari kader-kader yang hanya ingin menjadikan partai sebagai batu loncatan belaka. Hal yang tak kalah penting adalah menghindari adanya perilaku gonta-ganti partai atau pindah ke partai lain, termasuk mendirikan partai baru. Fakta sejarah mengungkapkan, banyak kader yang dibesarkan di Golkar, tetapi akhirnya menghianati partainya sendiri dengan pindah bahkan mendirikan partai lain.

Pada tataran ini, hemat saya, perlu ada semacam “doktrin partai” yang lebih kuat lagi, sehingga para kader milenial ini kemudian tidak mudah terombang-ambing ke kiri atau kanan. Kaderisasi perlu diperkuat secara terus menerus, agar kader-kader Golkar yang kemudian menjadi politisi akan lebih loyal, militan, dan siap mengabdikan diri bagi bangsa dan negara. Kita bersyukur, saat ini sudah banyak kader muda Golkar yang mulai bermunculan di berbagai daerah. Apalagi pada Pemilu 2019 lalu, Golkar mampu menyumbangkan anggota DPR RI terbanyak dari kaum milenial, yakni Puteri Komarudin (26), Dyah Roro Esti (26), dan Adrian Jopie Paruntu (25). Karena itu, hemat saya, tren positif ini perlu dipertahankan dan dilanjutkan Golkar pada masa mendatang, termasuk Golkar di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang saat ini dipimpin oleh orang muda Melki Laka Lena.

Jika dua hal yang penulis paparkan di atas terus dilakukan Golkar, maka penulis sangat yakin, partai ini akan terus menyumbangkan kader-kader milenialnya untuk berkontribusi dan berkarya bagi kemajuan bangsa dan negara. Pada saat yang sama, Golkar akan semakin diterima dan dicintai seluruh lapisan masyarakat, terutama kaum milenial. Dengan begitu – bukan mustahil – Golkar akan semakin eksis dan menunjukkan diri sebagai partai milenial di masa depan. Selamat menyambut Hari Ulang Tahun Partai Golkar ke-56. Merdeka!

Penulis adalah Kontributor Buku Antologi “Jangan Jual Integritasmu”. Menulis di Platform The Columnist dan Geotimes.

loading...