oleh

Status Goris Mere dan Karni Ilyas dalam Kasus Dugaan Korupsi Tanah Labuan Bajo


KUPANG– Kejaksaan Tinggi NTT telah menetapkan 16 tersangka dalam kasus pengalihan aset tanah negara seluas 30 ha senilai Rp 3 Triliun, yang terletak di Kerangan Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.

Sebelum menetapkan 16 tersangka, jaksa telah memeriksa 102 saksi, termasuk Goris Mere dan Karni Ilyas.

Bupati Manggarai Barat Jadi Tersangka Kasus Pengalihan Aset Negara

Saat ditanya terkait status Goris Mere dan Karni Ilyas, Kepala Kejaksaan Tinggi NTT DR Yulianto mengatakan, dari hasil pemeriksaan dan alat bukti, jaksa menyimpulkan bahwa Goris Mere dan Karni Ilyas termasuk pembeli yang beritikat baik.

“Mereka ini masuk klaster pihak ketiga yang beritikat baik. Dalam aturan hukum, ketika pihak ketiga beritikat baik maka wajib dilindungi hukum. Kita contohkan, ketika orang membeli tanah, tetapi dia tidak tau jika tanah itu bermasalah. Nah, ini masuk pembeli beritikat baik,” ujarnya kepada wartawan saat menggelar konferensi pers di kantor Kejati NTT, Sabtu (16/1/2021).

Menurut dia, meski hanya jadi pembeli yang beritikat baik, namun berkas pemeriksaan keduanya tetap dimasukkan dalam berkas perkara.

Saat ini, kata dia, tanah milik negara yang dibeli Goris Mere dan Karni Ilyas sudah dikembalikan.

“Berkas pemeriksaannya tetap dimasukan ke berkas perkara, karena sudah diperiksa. Dan tanah 30 ha sudah disita oleh kami, tidak ada lagi yang kuasai,” katanya. 

Jadi Tersangka Kasus Tanah, Bupati Manggarai Barat Belum Ditahan

Diketahui, dengan tertangkapnya Abrisal, maka dua tersangka dalam kasus ini yang belum ditahan yakni, Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula dan Veronika Sukur. 

Menurut Yulianto, Bupati Dula belum ditahan karena Kejati NTT sedang mengajukan perijinan ke Mendagri. Sementara Veronika Sukur masih menjalani karantina karena terkonfirmasi positif covid-19. (Kumparan/Kabelen)