oleh

Remaja Putri di NTT yang Bunuh Pemerkosanya Tak Bisa Dipidana

KUPANG– Seorang anak bawah umur berinisial B (16) ditetapkan sebagai tersangka setelah membunuh NB (48), pria yang hendak memperkosanya.

Berdasarkan keterangan dari anak perempuan tersebut, terungkap jika pelaku terpaksa membunuh NB karena NB memaksa pelaku untuk berhubungan intim, saat bertemu di hutan mencari kayu bakar.

Baca Juga: Hendak Diperkosa, Remaja Putri di NTT Melawan dan Bunuh Pelaku

Karena menolak untuk berhubungan intim, NB pun memukul dan memaksa anak perempuan tersebut. Karena membela diri, pelaku pun membunuhnya dan meninggalkan mayat korban itu di hutan.

Kasus ini pun ditanggapi pengamat hukum pidana Universitas Widya Mandira Kupang, Mikhael Feka. Menurut dia, penyidik harus menerapkan pasal 49 Ayat 1 KUHP kepada pelaku, karena ia terpaksa membunuh karena unsur self defence atau membela diri, apalagi pembelaan diri tersebut dilakukan dalam keadaan darurat atau terpaksa (noodweer).

Menurut dia, dalam kasus itu, pelaku melakukan pembelaan terpaksa untuk dirinya sendiri demi menjaga kehormatan kesusilaan, sehingga memenuhi syarat pembelaan terpaksa (noodweer).

“Karena pembelaan terpaksa, sehingga tidak bisa dimintai pertanggungjawaban secara pidana. Artinya, pelaku harus dibebaskan sebagaimana diatur dalam Pasal 49 Ayat 1 KUHP,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (17/2/2021).

Ia mengapresiasi Kapolda NTT Irjen Pol Lotharia Latif yang memerintahkan Kapolres TTS untuk menangani kasus tersebut secara humanis dan berdasarkan Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

“Bravo pak Kapolda. Langkah Polda NTT sudah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku demi menjaga keadilan dan marwah dari penegakan hukum,” katanya.

Baca Juga: Kondisi Terkini Remaja Putri di NTT yang Bunuh Pemerkosanya

Sebelumnya diberitakan, Kapolda NTT Irjen Pol Lotharia Latif mengaku telah memerintahkan Kapolres TTS agar kasus itu ditangani secara humanis.

BACA JUGA:   Pelajar SMA di Kupang Palak Pemilik Kios, Tak Sadar Aksinya Terekam CCTV

“Saya sudah printahkan Kapolres agar kasus itu ditangani secara humanis. Yang bersangkutan tidak ditahan di Polres,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (17/2/2021).

Menurut jenderal bintang dua ini, Polri tetap profesional dan proporsional dalam proses hukum yang dilakukan untuk memberikan rasa keadilan baik bagi tersangka juga untuk korban yang meninggal.

Ia mengatakan, semua proses penyidikan dilakukan secara humanis dan tetap menjunjung tinggi HAM. Pelaku saat ini dititipkan di direktorat rehabilitasi sosial anak di Kupang.

“Ada Polwan dan tenaga psikolog yang sudah saya perintahkan untuk pendampingan tersangka, sehingga dapat membuat tenang proses hukumnya. Pengadilanlah yang nantinya memberikan putusan terbaik,” katanya. (Laporan Reporter Dian Timur, Julio Faria)