oleh

Kisah Petugas Mandi Jenazah di RSUD SK Lerik, Ikhlas Bekerja Meski Sering Lihat Hal Mistis


KUPANG-Bekerja di kamar jenazah tak semua orang bisa menjalankannya. Apalagi, memandikan jenazah covid-19 sebelum diambil keluarga. 

Tentunya, bekerja sebagai pemandi jenazah banyak tantangannya. Dari resiko tertular penyakit atau virus hingga kejadian-kejadian mistis. 

Taufik Hasan, warga Kampung Solor, Kota Kupang, NTT, menceritakan pengalamannya selama bekerja di kamar jenazah RSUD SK Lerik Kupang, NTT.

Pria yang sudah mengabdi 12 tahun di kamar jenazah ini mengaku sudah memandikan 1.800-an jenazah sejak awal dia bertugas. 

Sejak Kota Kupang dilanda pandemi covid-19 tahun 2019, sebanyak 32 pasien positif covid-19 meninggal dunia di rumah sakit ia bekerja. Memasuki 2020, kata dia, ada empat orang pasien Covid-19 dinyatakan meninggal dunia. 

Taufik Hasan

Trend penurunan kematian pasien Covid-19 ini tak berlangsung lama. Tingkat kematian mulai meningkat lagi di tahun 2021 yang mencapai 22 orang. 

Bekerja sendiri dari memandikan hingga mengenakan pakaian untuk jenazah sudah menjadi hal biasa pria 40 tahun ini. Ia bahkan tak takut saat menjalankan tugasnya. 

“Intinya ikhlas. Kalau bekerja ikhlas, Tuhan pasti selalu menjaga dan menjauhkan kita dari segala macam gangguan,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (2/3/2021).

Bagi Hasan, mengurus jenazah harus sama seperti kita mengurus orang hidup. Karena, ia berkeyakinan meskipun raganya mati, namun hati manusia saat mati masih tetap hidup. Hal itu membuat dia selalu menghormati jenazah saat ia menjalankan tugasnya. 

“Saya tidak pernah takut. Mau Jenazah biasa atau jenazah covid-19, saya perlakukan sama. Selalu menghormati mereka. Semuanya kembali ke diri kita, intinya selalu ikhlas bekerja,” katanya.

Saat mengurus jenazah di masa covid-19, Hasan menggunakan alat pelindung diri (APD) dua lapis. Proses mengurus jenazah pasien biasa dan pasien covid-19 pun menurut dia, berbeda. Jika jenazah pasien biasa wajib dimandikan, namun untuk pasien covid-19 hanya diberi pakaian. 

“Kalau jenazah pasien biasa dimandikan dan diberi make up. Kalau pasien Covid-19 hanya ganti pakaiannya, tidak dimandikan. Tapi tetap diperlakukan sama, karena saya yakin, hati mereka masih hidup. Harus dihormati,” tandasnya. 

Ia mengaku sering mengalami hal-hal mistis sejak mengabdi di kamar jenazah. Meski demikian, ia berharap agar pandemi covid-19 segera berlalu. 

“Soal mistis selalu ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya seperti apa. Mereka punya dunia lain, saya biarkan saja, jangan ganggu mereka. Pekerjaan ini bagi saya, adalah panggilan,” tutupnya. (Dian)